News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Natal 2025

Kota-kota di Eropa Merevisi Tradisi Natal, Publik Marah

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Endra Kurniawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PERAYAAN NATAL - Orang-orang melihat lampu dan dekorasi bertema Natal di luar sebuah rumah di Mississauga, Ontario, Kanada, 22 Desember 2025. Sejumlah kota di Eropa memicu kontroversi setelah merevisi tradisi Natal dengan alasan inklusivitas, seperti instalasi modern adegan kelahiran Yesus

Di Inggris Raya, sebuah museum yang didanai dana publik juga memicu kemarahan setelah menerbitkan blog yang menyarankan agar figur Sinterklas perlu “didekolonisasi,” menurut The Sun.

Tulisan tersebut, yang pertama kali diterbitkan dua tahun lalu, ditulis oleh Simone LaCorbinière, Kepala Bersama Perubahan Budaya di Museum Brighton and Hove.

Ia berpendapat bahwa citra tradisional Sinterklas “terlalu putih dan terlalu maskulin,”.

Ia juga mengkritik konsep satu sosok yang menilai anak-anak melalui daftar “nakal atau baik.”

LaCorbinière mendorong para orang tua untuk membayangkan Santa sebagai figur yang lebih beragam dan merayakan pertukaran budaya.

“Biarkan Santa belajar tentang budaya yang berbeda, alih-alih menghakimi mereka,” tulisnya.

Ia juga menyarankan agar cerita Natal menggambarkan Santa mengalami berbagai tradisi di seluruh dunia.

Selain itu, ia mengusulkan kehadiran “Ibu Natal,” dengan alasan bahwa patriarki dan kolonialisme kerap berjalan beriringan.

Pernyataan tersebut menuai kecaman dari sejumlah politisi.

Anggota parlemen senior Partai Konservatif, Sir Alec Shelbrooke, menyebut inisiatif tersebut sebagai langkah yang keliru.

“Di saat yang seharusnya dipenuhi kebaikan dan kegembiraan, para aktivis 'sadar' justru tampak ingin membuat semua orang menderita. Ini merupakan penggunaan dana pembayar pajak yang sangat buruk,” ujarnya.

Baca juga: 100 Ucapan Perayaan Natal 2025 Spesial untuk Orang Terkasih, Lengkap dengan Sejarah Perayaannya

Tidak Ada Lagi Sweter Natal

Di wilayah lain di Inggris, sejumlah sekolah juga mendapat sorotan karena membatasi penggunaan pakaian bertema Natal atau mengganti nama acara liburan, menurut GB News.

Beberapa sekolah dilaporkan mengganti Sweter Natal dengan istilah pakaian “musim dingin” atau “musiman” yang lebih umum guna menghindari referensi keagamaan.

Musik Natal dalam Bahaya

Di Inggris, bernyanyi bersama lagu-lagu Natal yang mengandung lirik yang dianggap “menyinggung” di pub atau restoran berpotensi segera dilarang berdasarkan undang-undang baru.

Peringatan tersebut disampaikan oleh seorang aktivis kebebasan berbicara, seperti dilansir GB News.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini