Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Jepang selama ini dikenal sebagai salah satu negara paling aman di dunia, termasuk bagi anak-anak.
Namun, sejumlah laporan internasional dan temuan pakar menunjukkan bahwa keamanan anak di Jepang tidak bisa dilihat secara hitam-putih, terutama jika menyangkut eksploitasi seksual anak di ranah digital.
Dalam laporan Out of the Shadows Index 2022 yang dipimpin oleh Economist Impact, Jepang menempati peringkat ke-15 (sedangkan Indonesia di urutan ke-9 artinya jauh lebih baik) secara keseluruhan dari 60 negara dalam upaya mencegah dan menangani eksploitasi serta kekerasan seksual terhadap anak.
Untuk kategori pencegahan, Jepang berada di peringkat ke-26 (Indonesia di peringkat ke-24 artinya lebih baik dari Jepang), sementara pada aspek respons di peringkat ke-12 (Indonesia di peringkat ke-1 artinya sangat bagus sekali menanggapi terkait keamanan anak).
Peringkat tersebut menempatkan Jepang di bawah sejumlah negara berkembang, seperti Filipina dan Indonesia, dan memunculkan pertanyaan serius mengenai efektivitas pencegahan kejahatan seksual terhadap anak.
Baca juga: Anggaran Pertahanan Terbesar Jepang: Dari Drone SHIELD hingga Rudal Jarak 1.000 Km
Aman di Ruang Publik, Rentan di Dunia Digital
Para pengamat menilai, Jepang relatif aman bagi anak di ruang publik.
"Tingkat kejahatan kekerasan seperti penculikan atau pembunuhan anak tergolong rendah, transportasi umum tertib, dan lingkungan sekolah umumnya aman," ungkap seorang ahli sosial mengenai anak Jepang kepada Tribunnews.com Sabtu (27/12/2025).
Namun, tambahnya, tantangan besar justru muncul di ruang digital.
"Perdagangan konten pornografi anak, pemerasan berbasis daring, serta penyalahgunaan media sosial menjadi persoalan yang dinilai belum tertangani secara optimal."
Sejumlah pakar keamanan siber menyebut bahwa kesadaran publik dan prioritas penegakan hukum terhadap kejahatan anak ini masih tertinggal dibanding negara maju lain, "Bahkan tertinggal dibandingkan Indonesia," ungkap seorang pakar siber Jepang kepada Tribunnews.com.
Kasus Terus Meningkat
Data kepolisian Jepang menunjukkan peningkatan jumlah kasus dan penangkapan terkait pornografi anak dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Meski demikian, para ahli menilai angka resmi tersebut hanya mencerminkan sebagian kecil kasus, karena banyak kejahatan tidak terdeteksi atau tidak dilaporkan.
Data National Police Agency menunjukkan jumlah korban pornografi anak meningkat tajam dalam 15 tahun terakhir.
Baca tanpa iklan