IRAN VS AMERIKA. Kolase foto dari HO/IST/Tangkap Layar/RNTV dan Tangkap layar YouTube The White House 10 Januari 2026, menunjukkan Presiden AS Donald Trump saat menggelar pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak dan gas, 10 Januari 2026 dan protes di Teheran pada 29 Desember 2025. Pejabat tinggi Iran menanggapi ancaman terbaru dari Trump dengan menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak perlu dianggap serius.
TRIBUNNEWS.COM - Pejabat tinggi Iran menanggapi ancaman terbaru Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dengan menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak perlu dianggap serius.
Sikap itu disampaikan meski Teheran secara terbuka memperingatkan akan membalas jika Washington melancarkan serangan terhadap Iran.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengatakan Trump sering melontarkan ancaman tanpa tindak lanjut yang jelas.
Ia menilai pernyataan semacam itu sudah sering terjadi.
“Trump kerap mengatakan hal-hal seperti ini. Jangan anggap serius ucapannya,” kata Larijani, seperti dikutip kantor berita pemerintah IRNA, Rabu (14/1/2026)
Larijani menambahkan bahwa Iran telah berulang kali menunjukkan ketegasannya dalam menghadapi Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan itu muncul setelah Trump menyebut Washington sedang mempertimbangkan “opsi-opsi kuat”, termasuk kemungkinan intervensi militer, sebagai respons atas penanganan protes di Iran.
Meski retorika publik kedua negara semakin keras, Iran juga disebut masih membuka jalur diplomatik untuk mencegah konflik terbuka.
Pada Senin (12/1/2026), sejumlah pejabat senior Iran secara bersamaan menyampaikan peringatan kepada Amerika Serikat, sekaligus menolak klaim Trump bahwa Washington siap melindungi para demonstran Iran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa setiap serangan dari Amerika akan memicu respons besar di kawasan.
Dalam rapat umum yang disponsori pemerintah di Teheran, Ghalibaf secara langsung menanggapi pernyataan Trump.
“Kami telah mendengar bahwa Anda mengancam Iran,” ujar Ghalibaf.