Diego Garcia secara resmi berada di wilayah Inggris, tetapi Inggris hanya memiliki kehadiran terbatas di sana dan terutama memanfaatkan pangkalan tersebut untuk pengisian bahan bakar.
Selain itu, Inggris mempertahankan pangkalan pelatihan di Kenya dan Kanada, meskipun fasilitas tersebut bukan pangkalan udara RAF dalam arti penuh.
Seiring memburuknya situasi keamanan di Eropa, RAF juga meningkatkan kehadirannya di negara-negara seperti Estonia dan Polandia melalui rotasi NATO.
3. Prancis
Angkatan Udara Prancis (Armée de l’Air et de l’Espace) memiliki pengaruh global yang luas.
Jaringan ini berpusat pada wilayah dan departemen seberang laut serta bekas koloni Prancis di Afrika.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran militer Prancis di Afrika mengalami tekanan besar, sehingga Paris menarik sebagian besar pasukannya dari benua tersebut.
Pada Juli 2025, Prancis menyerahkan Camp Geille beserta lapangan terbangnya di Dakar kepada otoritas Senegal.
Penarikan serupa juga terjadi di Pantai Gading, Chad, Niger, Mali, dan Burkina Faso.
Meski demikian, Prancis masih mempertahankan pangkalan berskala lebih kecil di Djibouti dan Gabon.
Prancis juga memiliki kehadiran permanen di Pangkalan Udara Al Dhafra, Uni Emirat Arab.
Selain itu, Prancis mempertahankan kehadiran militer di wilayah luar negerinya, termasuk Reunion, Kaledonia Baru, Polinesia Prancis, dan Guyana Prancis.
4. Rusia
Situasi Rusia terkait pangkalan udara internasional tergolong rumit.
Pangkalan yang cukup jelas antara lain Pangkalan Udara Khmeimim di Suriah, Bandara Erebuni di Armenia, Pangkalan Udara ke-999 di Kirgistan, Baranovichi di Belarus, serta Kambala di Kazakhstan.
Pangkalan Militer ke-201 di Tajikistan berfokus pada angkatan darat, sementara Rusia juga mengoperasikan Pangkalan Militer ke-7 yang mencakup lapangan terbang Bombora di Abkhazia.
Rusia mengakui Abkhazia sebagai negara merdeka, meskipun secara internasional wilayah tersebut dianggap bagian dari Georgia.
Baca tanpa iklan