TRIBUNNEWS.COM - Komandan militer tertinggi Ukraina, Oleksandr Syrskyi, mengatakan Rusia tidak menunjukkan tanda-tanda minat dalam pembicaraan yang mengarah pada kesepakatan perdamaian.
Sebaliknya, Rusia berupaya meningkatkan produksi senjata, termasuk target 1.000 drone per hari.
“Sebaliknya, kita melihat peningkatan intensitas aksi militer, peningkatan jumlah kelompok musuh yang ofensif, peningkatan produksi senjata serang, rudal, dan drone,” kata Jenderal Oleksandr Syrskyi kepada media daring lb.ua, Minggu (18/1/2026).
“Saat ini, musuh memproduksi 404 drone 'Shahed' (drone rancangan Iran) berbagai jenis setiap hari. Dan rencananya adalah untuk meningkatkan jumlah tersebut. Musuh berencana untuk meningkatkan produksi secara signifikan, hingga 1.000 drone per hari," jelasnya.
Jenderal tersebut mengatakan Ukraina harus memperkuat posisinya dan berupaya menggagalkan rencana Rusia untuk memproduksi lebih banyak senjata.
"Militer Ukraina harus melakukan segala upaya untuk menggagalkan rencana-rencana ini dan menimbulkan kerugian agar musuh membatalkan rencananya, serta menciptakan kondisi untuk mengadakan pembicaraan. Tidak ada yang akan membuat kesepakatan dengan pihak yang lemah," ujarnya.
Jenderal Syrskyi juga memuji taktik serangan mendalam militer Ukraina, yang ia gambarkan sebagai kekuatan utama Ukraina, dan menghasilkan serangan terhadap 719 target dan kerugian sebesar US$15 miliar, terutama pada industri minyak Rusia.
Ukraina telah mengembangkan kapasitasnya untuk memproduksi drone dengan pesat sejak Rusia melancarkan invasinya pada Februari 2022 dan negara pendukungnya mengharapkan kemajuan lebih lanjut, lapor Strait Times.
Info Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.426 pada Senin (19/1/2026).
Perang Rusia–Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 setelah Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke wilayah Ukraina. Aksi tersebut menjadi puncak eskalasi dari hubungan kedua negara yang telah lama diwarnai ketegangan.
Baca juga: 200 Drone Rusia Serang Ukraina, Zelenskyy: Korban Tewas, Listrik Padam di Suhu Beku
Konflik ini berakar sejak runtuhnya Uni Soviet, yang membuat Rusia dan Ukraina berdiri sebagai negara merdeka dengan arah politik dan kepentingan keamanan yang berbeda. Dalam perkembangannya, Ukraina semakin menjalin kedekatan dengan negara-negara Barat, baik di bidang politik maupun ekonomi.
Langkah Kyiv untuk bergabung dengan NATO dan Uni Eropa dipersepsikan Rusia sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya. Ketegangan semakin meningkat pada 2014, setelah Revolusi Maidan menggulingkan pemerintahan Ukraina yang dianggap dekat dengan Moskow.
Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Krimea, sementara konflik bersenjata juga meletus di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia. Sejumlah upaya diplomatik internasional sempat dilakukan, namun tidak mampu menghentikan konflik secara berkelanjutan.
Situasi terus memburuk hingga Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi militer penuh pada Februari 2022. Rusia menyatakan operasi tersebut bertujuan melindungi warga di Donbas, menjaga kepentingan keamanannya, serta menolak perluasan NATO di Eropa Timur.
Sebagai respons, Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya menjatuhkan sanksi ekonomi berat terhadap Rusia dan meningkatkan bantuan militer serta keuangan bagi Ukraina.
Baca tanpa iklan