News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Setelah Seminggu, Kebakaran Hutan di Yamanashi Jepang Mulai Mereda

Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pemadaman api di hutan Yamanashi masih berlangsung hingga pagi ini (16/1/2026) lewat bantuan helikopter satuan beladiri Jepang (SDF)

Kekeringan “menyiapkan bahan bakar”, sedangkan angin memberikan oksigen dan tenaga pendorong. Ketika dua faktor ini bertemu, risiko terjadinya kebakaran “di luar perkiraan” yang sulit dikendalikan oleh manusia meningkat drastis.

Padahal, hutan pada dasarnya berfungsi menyerap karbon dioksida. Namun, saat terjadi kebakaran, sejumlah besar CO₂ dilepaskan. Jika hutan kembali terbakar sebelum sempat pulih, kemampuan menyerap karbon akan menurun secara permanen. Akibatnya, terjadilah lingkaran setan yaitu  pemanasan global memicu kebakaran, dan kebakaran mempercepat pemanasan global.

“Anggapan bahwa Jepang aman karena iklimnya lembap sudah menjadi masa lalu. Kita harus menghadapi kenyataan bahwa kelalaian kecil dalam menangani api bisa berujung pada kebakaran besar,” tegas Profesor Kushida.

Baca juga: Sarwendah Ungkap Kondisi Anaknya usai Sekolahnya Alami Kebakaran

Mencegah Api Kecil demi Melindungi Masa Depan

Menurut Badan Kehutanan Jepang, sekitar 60 persen kebakaran hutan di Jepang disebabkan oleh faktor manusia. Puntung rokok yang dibuang sembarangan, api unggun, pembakaran ladang—sebagian besar merupakan “api yang sebenarnya bisa dicegah”.

Perilaku yang dahulu sering dianggap sepele, seperti “hanya sebentar” atau “sedikit saja tidak apa-apa”, kini dapat menjadi pemicu kebakaran besar ketika bertemu dengan musim kering dan angin kencang.

Tidak membawa api ke pegunungan, menghindari penggunaan api di musim kering, mengikuti pelatihan kebencanaan, serta memastikan jalur evakuasi—perhatian kecil dari setiap individu dapat menjadi kekuatan besar yang melindungi masyarakat secara keseluruhan.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai upaya pencegahan juga mulai diterapkan. Di pintu masuk jalur pendakian dan jalan hutan dipasang papan bertuliskan “Dilarang Menggunakan Api”. Sejumlah pemerintah daerah mulai memanfaatkan drone untuk pemantauan kebencanaan. Di luar negeri, bahkan ada gerakan mewajibkan pelatihan penggunaan api di area perkemahan.

Langkah-langkah pencegahan yang menggabungkan pengetahuan dan tindakan nyata kini semakin meluas.

Perawatan Hutan Dapat Mencegah Penyebaran Api

Namun, kewaspadaan manusia saja tidak cukup untuk sepenuhnya mencegah kebakaran. Di sinilah pentingnya membangun “hutan yang sulit terbakar”.

Organisasi nirlaba JUON NETWORK selama bertahun-tahun mengembangkan program perawatan hutan berbasis partisipasi warga di berbagai daerah Jepang. Mereka melakukan edukasi lingkungan, aktivitas swasembada energi, serta mengajak mahasiswa dan relawan merawat hutan secara rutin.

Direktur Eksekutif Takayuki Shikazumi menjelaskan, “Kami tidak secara khusus merawat hutan dengan tujuan mencegah kebakaran, tetapi hasilnya ternyata juga berkontribusi pada pencegahan api. Dengan memangkas semak, mengurangi rumput dan kayu mati, serta melakukan penjarangan pohon, jarak antar pohon menjadi lebih lebar dan potensi penyebaran api dapat ditekan.”

Di lapangan, sering kali dilakukan penebangan pohon untuk membuat “sabuk api” guna menghentikan laju kebakaran namun Shikazumi menekankan bahwa tidak cukup hanya mengandalkan sabuk api darurat.

Yang lebih penting adalah pengelolaan jangka panjang agar hutan selalu berada dalam kondisi “tidak mudah terbakar”. Memang, semakin banyak orang memasuki hutan, semakin tinggi risiko kelalaian. Tetapi hutan yang terang dan memiliki sirkulasi udara baik justru membuat api sulit melaju.

Diskusi  kehutanan di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini