TRIBUNNEWS.COM - Setidaknya 104 orang yang dikategorikan sebagai tahanan politik di era rezim Nicolas Maduro dibebaskan pada Minggu (25/1/2026).
Banyak tahanan politik yang dibebaskan tersebut, ditangkap pasca-pemilihan presiden Venezuela 2024.
Kala itu, Maduro memenjarakan pihak-pihak di Venezuela yang menentang klaim kemenangan Nicolas Maduro pada pemilu yang disengketakan dunia internasional tersebut.
Langkah ini merupakan bagian dari proses pembebasan berkelanjutan yang dijanjikan oleh pemerintah transisi Venezuela setelah Nicolas Maduro diringkus oleh militer Amerika Serikat pada awal tahun ini.
Dikutip dari Reuters, Informasi ini disampaikan oleh Alfredo Romero, Direktur Foro Penal.
Sebagai informasi, Foro Penal adalah organisasi hak asasi manusia terkemuka di Venezuela yang terdiri dari jaringan pengacara dan aktivis sukarelawan.
Organisasi ini berfokus pada pemberian bantuan hukum gratis bagi mereka yang ditahan secara sewenang-wenang serta memantau pelanggaran HAM, khususnya terkait jumlah dan kondisi tahanan politik di Venezuela.
Melalui unggahannya di platform X, Romero mengonfirmasi bahwa para tahanan tersebut dibebaskan dari berbagai penjara di seluruh negeri.
Ia memprediksi jumlah tersebut akan terus bertambah.
"Idealnya, pemerintah memublikasikan daftar resmi mereka yang telah dibebaskan," ujar Romero.
Kabar ini membuktikan kelanjutan dari pernyataan Presiden interim Venezuela, Delcy Rodriguez, pada Jumat lalu (23/1/2026).
Delcy menyatakan bahwa sebanyak 626 orang telah dibebaskan dari penjara pada akhir pekan lalu tanpa merinci ke linimasa jumlah pastinya.
Baca juga: Fakta Baru Penangkapan Maduro, AS Ternyata Punya Orang Dalam di Kabinet Venezuela
Di antara mereka yang telah menghirup udara bebas, terdapat sejumlah tokoh oposisi domestik.
Selain itu, sedikitnya ada pula lima warga negara Spanyol yang ikut dibebaskan.
Baca tanpa iklan