Meski demikian, Rusia juga terkejut dengan pendekatan pragmatis al-Sharaa yang tetap membuka ruang kerja sama.
Menurut Ramani, al-Sharaa berusaha menyeimbangkan hubungan luar negerinya di tengah dinamika global, termasuk kemungkinan perubahan kebijakan Amerika Serikat.
Ia menyebut Partai Republik AS cenderung lebih lunak terhadap hubungan Suriah–Rusia, sementara Partai Demokrat lebih berhati-hati.
Al-Sharaa sendiri menegaskan perlunya kerja sama dengan Rusia, meski ia juga meminta ekstradisi Bashar al-Assad, yang kini dilindungi Moskow.
Hingga kini, Kremlin belum mengindikasikan apakah akan menyetujui permintaan tersebut.
Di sisi lain, Rusia disebut ingin mempertahankan pengaruhnya di Suriah setelah kehilangan posisi strategis di kawasan lain.
Presiden Putin disebut sangat berkepentingan menjaga keberadaan militer Rusia di negara itu, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Sementara itu, pemerintah baru Suriah mulai mengalihkan kebijakan luar negerinya dengan membuka hubungan strategis dengan Amerika Serikat.
Upaya tersebut disertai gencatan senjata yang kini masih bertahan, meski situasi di lapangan tetap rapuh.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan