Kunjungan ini juga mengikuti jejak Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, yang telah lebih dulu berkunjung awal tahun ini.
Sebelumnya, pada 14 Januari 2026, kunjungan pertama Carney ke China membuatnya menjadi pemimpin tertinggi Kanada pertama yang menyambangi Negeri Tirai Bambu dalam hampir satu dekade terakhir.
Selama kunjungan Carney, kedua negara menandatangani kesepakatan ekonomi besar untuk menghapus hambatan perdagangan dan membangun hubungan strategis baru.
Dikutip dari Reuters, Carney mengatakan bahwa kunjungannya ke China ini merupakan langkah guna mengantisipasi "gangguan" perdagangan global yang dialami negaranya.
Carney dalam pernyataannya juga menyindir AS secara implisit dengan mengatakan bahwa Kanada tak bisa tergantung lagi pada satu mitra dagang saja.
“Kami menjalin kemitraan baru di seluruh dunia untuk mengubah ekonomi kami dari ekonomi yang bergantung pada mitra dagang tunggal.” ungkap Carney.
Carney juga menilai, China saat ini adalah negara mitra yang lebih "prediktabel" dan "dapat diandalkan".
Negara Barat Tinggalkan AS untuk China
Kunjungan Starmer menjadi bagian dari gelombang diplomasi terbaru yang dilakukan para pemimpin Barat terhadap China, seiring upaya negara-negara sekutu mengantisipasi ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Ancaman Trump yang tidak menentu terkait tarif perdagangan serta pernyataannya mengenai Greenland telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan sekutu tradisional seperti Inggris dan Kanada.
Kerry Brown, profesor studi China di King's College London, memperkirakan sejumlah kesepakatan dagang antara Inggris dan China akan segera diumumkan guna menunjukkan peningkatan hubungan bilateral.
Fenomena membelotnya sekutu AS ke China karena Trump ini juga diamini oleh Aleksandar Tomic, profesor ekonomi di Boston College.
Baca juga: China Eksekusi Mati 11 Bos Penipuan Online yang Beroperasi di Myanmar
"Banyak negara yang sebelumnya tidak bersikap ramah terhadap Tiongkok kini mulai beralih... karena Amerika Serikat menjadi jauh lebih tidak dapat diprediksi," kata Tomic seperti yang dikutip oleh Reuters.
Tomic juga tak menutup kemungkinan bahwa banyak sekutu AS lainnya bakal menyusul langkah Inggris dan Kanada untuk menjalin kerjasama dengan China.
"Semakin sulit AS untuk diajak bekerja sama, semakin terbuka peluang bagi China" pungkasnya.
(Tribunnews.com/Bobby)
Baca tanpa iklan