TRIBUNNEWS.COM - Di awal tahun 2026 ini, lini masa media sosial mulai dari Instagram, TikTok, hingga X (Twitter) sedang dibanjiri oleh satu camilan yang sukses buat siapa pun yang melihatnya mengeluarkan air liur.
Cemilan yang sedang viral di linimasa ini adalah Dubai Chewy Cookie.
Tidak seperti namanya, cemilan Dubai Chewy Cookie bukan berasal dari Uni Emirat Arab.
Usut punya usut, cemilan bercita rasa manis ini berasal dari Korea Selatan.
Di negara asalnya, tren panganan ini dikenal dengan sebutan 두쫀쿠 (Dujjonku) atau Dubai Jjondeuk Cookie.
Berbeda dengan cookie pada umumnya yang identik dengan tekstur renyah atau crumbly, kudapan satu ini justru menawarkan sensasi chewy yang luar biasa di luar namun tetap crunchy di dalam dengan rasa yang sangat mewah.
Lantas kenapa cemilan ini menggunakan nama "Dubai" meskipun datangnya berasal dari Korea Selatan?
Dikutip dari Korea Times, cemilan ini sendiri sebenarnya berakar dari tren Dubai Chocolate yang sempat mengguncang dunia pada tahun 2024-2025.
Terinspirasi dari cokelat premium asal Dubai yang berisi campuran krim pistachio, tahini, dan renyahnya kunafa (kataifi pastry), para kreator kuliner di Korea kemudian memodifikasi konsep tersebut menjadi sesuatu yang baru.
Bukannya menggunakan batang cokelat, mereka justru membungkus isian khas Dubai tersebut dengan lapisan marshmallow cokelat yang kenyal.
Hasilnya adalah sebuah camilan yang teksturnya mirip mochi namun lebih fluffy dan chocolatey, sehingga terciptalah istilah "cookie" baru yang unik.
Baca juga: Apa itu Huang Mei Ren? Adik Jeruk Hong Mei Ren yang Viral di Imlek 2026
Ledakan popularitas Dujjonku mencapai puncaknya di awal tahun 2026, terutama setelah beberapa idola K-pop papan atas seperti Jang Won-young dari IVE mengunggah momen saat menikmatinya.
Dampaknya sangat instan; antrean panjang mulai mengular di berbagai toko dessert di Seoul, stok selalu ludes dalam hitungan menit, bahkan harga bahan baku seperti pistachio dan marshmallow di Korea dikabarkan sempat melonjak drastis akibat permintaan yang membeludak.
Fenomena ini pun segera menyebar secara global, mulai dari Singapura, Kanada, hingga merambah ke kafe-kafe lokal di Indonesia.
Baca tanpa iklan