News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Parlemen Malaysia Ricuh, Anwar Ibrahim Mengamuk Bahas Sengketa Indonesia

Penulis: Bobby W
Editor: Garudea Prabawati
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Sidang Dewan Rakyat Malaysia berlangsung ricuh setelah PM Anwar Ibrahim menegur keras pihak oposisi yang dianggap "biadab"
  • Oposisi yang dipimpin Hamzah Zainudin menuduh Anwar menyerahkan lahan seluas 5.207 hektare di perbatasan Sabah-Kalimantan kepada Indonesia sebagai kompensasi bagi tiga desa di wilayah Nunukan.
  • PM Anwar meminta oposisi untuk tidak mencari keuntungan politik sempit melalui isu sensitif yang dapat merusak hubungan diplomatik dengan Indonesia

 

TRIBUNNEWS.COM - Suasana sidang parlemen Malaysia yang dihadiri Perdana Menteri Anwar Ibrahim pada Rabu siang (4/2/2026) berlangsung begitu panas.

Bahkan suasana persidangan Dewan Rakyat di Kuala Lumpur tersebut mendadak ricuh setelah Anwar Ibrahim, melontarkan teguran keras kepada anggota parlemen oposisi.

Adapun teguran tersebut terkait isu perbatasan wilayah antara Malaysia dan Indonesia.

Dikutip dari kanal YouTube Astro AWANI, kericuhan bermula saat PM Anwar Ibrahim menyinggung adanya pernyataan oposisi yang dianggapnya "biadab".

Adapun pernyataan tersebut adalah tudingan bahwa Anwar Ibrahim memberikan lahan seluas 5.207 hektare di perbatasan Sabah-Kalimantan kepada Indonesia.

Isu ini pertama kali dimunculkan oleh tokoh oposisi Pemerintah Malaysia, Datuk Seri Hamzah Zainudin, pada Kamis (29/1/2026).

Dalam pernyataannya, tokoh dari koalisi Perikatan Nasional tersebut mengeklaim bahwa Malaysia telah menyerahkan lahan ribuan hektare sebagai kompensasi bagi tiga desa di wilayah Nunukan. 

Di persidangan tersebut, Anwar pun menyatakan kekecewaannya terhadap klaim oposisi yang dianggap sebagai fitnah.

Anwar menuding pihak oposisi melakukan penghinaan kepada petugas keamanan dan pegawai teknis yang telah bekerja keras memetakan wilayah di hutan belantara Malaysia alih-alih memberikan penghargaan. 

"Jika tidak tahu, lebih baik bertanya. Jangan memaki hamun (Mencaci-maki)," tegas Anwar Ibrahim di hadapan sidang Dewan Rakyat.

Baca juga: Namanya Dicatut di Epstein Files, PM Malaysia Anwar Ibrahim Buka Suara

Pernyataan tersebut pun memicu reaksi spontan dari blok oposisi.

Ketua Oposisi, Datuk Seri Hamzah Zainuddin, beserta beberapa anggota parlemen lainnya, termasuk Anggota Parlemen Pendang bahkan sempat balik membentak Anwar Ibrahim,

Zainudin bangkit untuk membela diri dan membantah tuduhan yang disampaikan Anwar tersebut.

Salah satu perwakilan oposisi juga sempat mengajukan poin keberatan yang tertera dalam peraturan dewan Malaysia.

PARLEMEN MALAYSIA RICUH - Tangkap Layar Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim (kiri) membentak sejumlah tokoh oposisi pada Rabu (4/2/2026) (Tangkap Layar Youtube / astroawani)

Pihak oposisi menilai bahwa tuduhan PM Anwar yang menyebut mereka "biadab" dan "memaki hamun" adalah tindakan yang tidak mencerminkan sikap seorang anggota parlemen.

Oposisi Pemerintah Malaysia juga menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan Anwar Ibrahim dan meminta agar forum tersebut tidak digunakan sebagai sarana untuk menyerang mereka.

Klarifikasi Anwar Ibrahim soal Wilayah Indonesia

Di tengah ketegangan tersebut, PM Anwar sempat memberikan penjelasan mengenai status terkini perundingan perbatasan kedua negara

Anwar Ibrahim menegaskan bahwa penentuan perbatasan antara Malaysia dan Indonesia, termasuk tiga desa terkait, didasarkan pada dua konvensi dan satu perjanjian.

"Kawasan OBP (Outstanding Boundary Problem) sebelumnya tidak dapat dianggap sebagai wilayah milik negara mana pun karena belum diputuskan oleh kedua negara. Kawasan tersebut merupakan wilayah perundingan dan penentuan perbatasan yang belum diselesaikan sejak lama," ujarnya saat Sesi Penjelasan Khusus Parlemen mengenai Isu Jajaran Perbatasan Malaysia-Indonesia di Dewan Rakyat pada Rabu.

Dalam kesempatan itu, Anwar menjelaskan bahwa Malaysia dan Indonesia terikat oleh perjanjian yang ditandatangani melibatkan konvensi perbatasan antara pemerintah Inggris dan Belanda, yaitu Boundary Convention 1891 untuk keseluruhan wilayah Sabah dan Sarawak, serta Boundary Agreement 1915 khusus untuk Sabah.

Untuk sebagian kecil sektor di Sarawak, penentuan batas merujuk pada Boundary Convention 1928 yang ditandatangani di Den Haag pada 26 Maret 1928 antara Inggris dan Belanda.

"Oleh karena itu, kita harus terikat pada perjanjian. Mengenai hal yang diperdebatkan, saya melihat itu adalah kawasan yang sejak awal tahun 1919 telah ditekankan dalam semua catatan kita. Wilayah tersebut tidak kita sahkan (sebagai milik kita), namun juga tidak pernah kita klaim sebagai milik Malaysia," jelasnya.

Sementara itu, Anwar juga mengatakan bahwa masih ada beberapa hal sensitif dalam perundingan bersama Indonesia yang belum selesai.

Baca juga: Anwar Ibrahim Bantah Kabar Malaysia Berikan Lahan 5.207ha untuk Indonesia

Menurut beliau, hal itu mencakup isu lima kawasan perbatasan darat, kawasan intertidal di sektor Sabah–Kalimantan Utara, serta empat kawasan OBP di sektor Sarawak–Kalimantan Barat yang masih dalam proses perundingan dan belum mencapai kesepakatan akhir.

"Sebab itu, pernyataan-pernyataan kita harus dilakukan dengan hati-hati dan bijaksana. Jika hanya ingin mencari keuntungan politik sempit, sekarang bukan saatnya untuk mengorbankan kepentingan Malaysia atau merusak hubungan baik antara kedua negara," tegasnya.

"Jadi, saya ingin menjelaskan, seperti halnya tuduhan bahwa kita menyerahkan Ambalat, hal itu bahkan belum diputuskan, tetapi tuduhan oposisi menyebutkan sudah diserahkan. Saya tidak tahu wilayah mana yang mereka maksud telah diserahkan," pungkasnya.

ANWAR IBRAHIM Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim saat mendengarkan khutbah salat Jumat di Masjid Ar-Rahimah Taman Greenwood Jumat (30/1/2026) (bernama)

(Tribunnews.com/Bobby)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini