News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Rusia Vs Ukraina

Simulasi Perang Rusia vs NATO, Putin Disebut Bisa Capai Tujuan dalam Hitungan Hari

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Bobby Wiratama
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Simulasi tersebut dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran di Eropa akan potensi serangan Rusia terhadap NATO.

Tahun lalu, terjadi beberapa kali penyusupan drone dan jet tempur Rusia ke wilayah NATO ketika Rusia menguji pertahanan aliansi tersebut, sebuah langkah yang menurut para ahli dan pejabat dirancang untuk melihat bagaimana negara-negara NATO akan bereaksi.

Menteri Pertahanan Belanda, Ruben Brekelmans, mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa pihaknya telah memperkirakan Rusia mampu memindahkan sejumlah besar pasukan dalam waktu satu tahun.

“Kami melihat bahwa mereka telah meningkatkan inventaris strategis mereka, serta memperluas kehadiran dan aset di sepanjang perbatasan NATO,” tambahnya.

Latihan simulasi perang tersebut dilaksanakan pada Desember secara bersama-sama oleh surat kabar Jerman Die Welt dan Pusat Simulasi Perang Jerman dari Universitas Helmut Schmidt Angkatan Bersenjata Jerman.

Potensi Perang Rusia vs NATO

Kekhawatiran meletusnya perang antara Rusia dan NATO bukan tanpa dasar.

Menurut Vadym Skibitskyi, Wakil Kepala Direktorat Intelijen Pertahanan Ukraina (HUR), dalam wawancara dengan media Ukraina Ukrinform pada 7 September 2025, Rusia tengah mendorong industri pertahanannya ke tingkat yang lebih tinggi.

Rusia disebut berencana memproduksi puluhan jet tempur baru, ratusan tank dan kendaraan lapis baja, serta ribuan rudal.

Target produksi tersebut menunjukkan persiapan tidak hanya untuk perang melawan Ukraina, tetapi juga untuk potensi konfrontasi dengan NATO pada 2030.

Selain itu, Letnan Jenderal Alexander Sollfrank mengatakan kepada Reuters dalam wawancara pada November 2025 bahwa Rusia berpotensi melancarkan serangan skala besar terhadap NATO paling cepat pada 2029 jika upaya persenjataannya terus berlanjut.

Sollfrank menyebut bahwa meskipun mengalami kemunduran di Ukraina, angkatan udara Rusia masih mempertahankan kekuatan tempur yang substansial, sementara kekuatan nuklir dan rudalnya tetap tidak terpengaruh.

Meski Armada Laut Hitam telah menderita kerugian signifikan, armada Rusia lainnya belum mengalami penurunan kekuatan, katanya.

“Pasukan darat memang menderita kerugian, tetapi Rusia menyatakan bertujuan meningkatkan jumlah total pasukannya menjadi 1,5 juta tentara.”

“Rusia juga memiliki cukup tank tempur utama sehingga serangan terbatas dapat dilakukan paling cepat mulai besok,” tambah Sollfrank.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini