Padahal jumlah penduduk asing di Jepang terus meningkat. Artinya, semakin banyak orang asing tinggal lebih lama, tetapi tidak beralih menjadi penduduk tetap atau warga negara Jepang.
Survei juga menunjukkan kurang dari 40 persen orang asing ingin menetap permanen di Jepang.
Hal ini menunjukkan sistem Jepang memang dirancang untuk mempertahankan pola “tinggal sementara”.
Baca juga: Anonim Sumbangkan Emas Batangan Senilai Rp56 Miliar ke Dinas Air Osaka Jepang
Jepang fokus pada pekerja dan pelajar
Perbandingan internasional berdasarkan data OECD menunjukkan karakter khas Jepang.
Negara seperti Jerman, Prancis, dan Belanda menerima berbagai jenis migran—termasuk reunifikasi keluarga dan pengungsi. Jepang sebaliknya sangat fokus pada pekerja dan pelajar, dengan penerimaan kategori lain sangat terbatas.
Akibatnya, orang asing di Jepang lebih sering diposisikan sebagai tenaga kerja sementara.
Banyak bekerja non-reguler, rentan saat krisis ekonomi
Data sensus 2020 menunjukkan tingkat pekerjaan non-reguler jauh lebih tinggi pada pekerja asing.
Pria Jepang non-reguler sekitar 14 persen, warga Brasil sekitar 53 persen, warga Indonesia sekitar 45 persen dan Vietnam, Nepal, Peru sekitar 40 persen.
Pekerjaan non-reguler lebih rentan terhadap pemutusan kerja saat ekonomi memburuk. Dampaknya terlihat jelas saat krisis finansial global dan pandemi COVID-19.
Dalam jangka panjang, upah rendah dan pekerjaan tidak stabil juga dapat menyebabkan pendapatan pensiun yang tidak mencukupi pada usia tua.
Dampak pada generasi anak dan risiko perpecahan sosial
Anak-anak warga asing semakin banyak melanjutkan sekolah menengah, tetapi tingkat putus sekolah masih tinggi dan akses pendidikan tinggi tetap menjadi tantangan.
Jika kesempatan tidak setara, maka ketimpangan sosial berdasarkan kewarganegaraan dapat diwariskan antar generasi.
Baca tanpa iklan