Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Jumlah warga Indonesia (pekerja) yang datang ke Jepang melalui program magang teknis (ginou jisshuu) dan pekerja keterampilan khusus (tokutei ginou) terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan populasi sekitar 280 juta jiwa dan hampir setengahnya berusia di bawah 30 tahun, Indonesia menjadi salah satu sumber tenaga kerja muda yang besar bagi Jepang yang sedang menghadapi penurunan populasi usia kerja.
Banyak perusahaan Jepang kini aktif melakukan perekrutan langsung di Indonesia.
"Di sisi lain, tingginya pengangguran di kalangan anak muda Indonesia membuat banyak dari mereka tidak memiliki pilihan selain mencari peluang kerja di luar negeri," ungkap Yuya Ono dari Brexa Raya Indonesia (BRI).
Dalam sebuah sesi pelatihan di Bogor, dekat Jakarta, pada awal Februari, Presiden Direktur perusahaan pengiriman tenaga kerja BRI Yuya Ono, menyampaikan pesan kepada sekitar 200 pemuda yang bercita-cita bekerja di Jepang.
Baca juga: Kebijakan Hidup Berdampingan yang Tertib Dipertanyakan Profesor Jepang
“Jumlah tenaga kerja Jepang terus menurun. Kami berharap Anda datang untuk membantu Jepang,” ujarnya.
Kiriman uang jauh lebih tinggi dari upah minimum
Indonesia saat ini berada dalam fase bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif (15–64 tahun) sangat besar dan menjadi pendorong ekonomi.
Namun, tingkat pengangguran di kalangan muda mencapai sekitar 17 persen, jauh di atas rata-rata nasional sekitar 5 persen.
Untuk mengatasi masalah tersebut sekaligus meningkatkan devisa negara, pemerintah Indonesia mendorong warganya bekerja di luar negeri.
Pada 2026, pemerintah menargetkan sekitar 500 ribu pekerja migran dikirim ke berbagai negara.
Menurut media di Indonesia, tujuan utama pekerja migran Indonesia pada 2024 adalah Hong Kong dengan sekitar 92 ribu orang.
Jepang berada di peringkat keempat dengan sekitar 12 ribu orang.
Jepang tetap menarik meski yen melemah
Baca tanpa iklan