News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Trump Klaim Pemimpin Baru Iran Harus Dapat Persetujuan AS Jika Ingin Bertahan Lama

Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Whiesa Daniswara
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan pemimpin tertinggi Iran yang baru harus mendapatkan persetujuan dari Washington agar dapat bertahan.

Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Trump mengatakan siapa pun yang dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran tanpa restu Amerika Serikat “tidak akan bertahan lama”.

Ia menyampaikan pernyataan tersebut beberapa jam sebelum media pemerintah Iran melaporkan Majelis Pakar Iran memilih Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara itu.

Mojtaba merupakan putra dari Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran sebelumnya yang dilaporkan tewas setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Dalam wawancara dengan ABC News, Trump kembali menegaskan bahwa pemimpin Iran berikutnya harus mendapat persetujuan dari Washington.

“Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump.

Trump juga mengatakan bahwa ia tidak ingin konflik dengan Iran kembali terjadi di masa depan, terutama terkait kekhawatiran terhadap program nuklir Teheran.

Namun, pemerintah Iran membantah keras klaim bahwa Amerika Serikat memiliki pengaruh dalam pemilihan pemimpin tertinggi mereka.

Baca juga: Israel Pernah Peringatkan Pemimpin Baru Iran Akan Jadi Target Pembunuhan: Tak Peduli Dia Bersembunyi

Araghchi: Terserah Iran

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan urusan internal Iran.

“Ini terserah rakyat Iran untuk memilih pemimpin baru mereka,” kata Araghchi.

Dikutip dari Al Jazeera, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat sejak konflik militer pecah pada akhir Februari.

Korban jiwa juga terus bertambah seiring meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Pentagon mengonfirmasi bahwa seorang tentara Amerika Serikat meninggal dunia akibat luka yang diderita setelah serangan terhadap pasukan AS di Arab Saudi pada awal Maret.

Dengan kematian tersebut, jumlah tentara Amerika Serikat yang tewas sejak konflik dimulai meningkat menjadi tujuh orang.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini