TRIBUNNEWS.COM - Perang Iran memasuki hari ke-70 pada Jumat (8/5/2026) dengan ketegangan baru pecah di kawasan Selat Hormuz setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melontarkan tuduhan serangan militer.
Pulau Qeshm yang berada di pintu masuk Selat Hormuz kini menjadi titik panas baru konflik setelah media pemerintah Iran melaporkan ledakan dan aktivitas sistem pertahanan udara di kawasan tersebut.
Al Jazeera melaporkan Iran menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata dengan menyerang dua kapal di dekat Selat Hormuz serta menargetkan wilayah sipil di sepanjang pantai selatan Iran.
Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pasukannya hanya melakukan “serangan pertahanan diri” setelah tiga kapal perusak Angkatan Laut AS diserang rudal, drone, dan kapal kecil Iran saat melintasi Selat Hormuz.
Meski bentrokan kembali terjadi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan gencatan senjata dengan Iran masih berlaku.
Trump bahkan menyebut pembicaraan dengan Teheran berjalan “sangat baik” dan mengklaim peluang tercapainya kesepakatan damai masih terbuka.
Pulau Qeshm Jadi Fokus Konflik
Pulau Qeshm memiliki posisi strategis di pintu masuk Selat Hormuz dan selama ini dikenal sebagai salah satu basis penting kekuatan angkatan laut “asimetris” Iran.
Baca juga: Ujian Paling Serius terhadap Gencatan Senjata! AS-Iran Saling Baku Tembak di Selat Hormuz
Al Jazeera melaporkan kawasan tersebut menjadi lokasi ledakan dan pencegatan drone oleh sistem pertahanan udara Iran dalam 24 jam terakhir.
Iran menuduh serangan AS juga menyasar wilayah sipil di sekitar Bandar Khamir, Sirik, dan Pulau Qeshm.
Militer Iran mengklaim pihaknya membalas serangan tersebut dengan menargetkan kapal-kapal militer AS di dekat selat.
Namun, CENTCOM membantah kapal perang AS terkena serangan dan menegaskan operasi mereka dilakukan untuk melindungi jalur pelayaran internasional.
Trump Ancam Iran Lagi
Di tengah eskalasi terbaru, Trump kembali memperingatkan Iran agar segera menerima kesepakatan damai yang sedang dinegosiasikan.
“Jika mereka tidak menyetujui kesepakatan, respons kami akan jauh lebih keras,” ujar Trump seperti dikutip Reuters.
Reuters melaporkan Washington masih terus mendorong proposal perdamaian yang dimediasi Pakistan, meski bentrokan militer terus berlangsung.
Baca tanpa iklan