Negara-negara Teluk memang memiliki kemampuan militer yang signifikan, terutama di sektor angkatan udara yang modern dan terlatih.
Arab Saudi, misalnya, memiliki ratusan pesawat tempur canggih seperti F-15 dan Eurofighter Typhoon yang mampu melakukan berbagai operasi militer.
Sementara itu, UEA dikenal memiliki kekuatan udara yang efisien dengan teknologi tinggi dan pengalaman operasi di berbagai konflik regional.
Namun, para analis menilai keterlibatan langsung dalam perang melawan Iran dapat memicu konsekuensi serius.
Risiko tersebut mencakup serangan balasan terhadap fasilitas minyak, bandara, hingga infrastruktur vital lainnya di kawasan Teluk.
Selain itu, konflik terbuka juga berpotensi memperburuk hubungan diplomatik antara Iran dan negara-negara Arab dalam jangka panjang.
Chatham House menyebut keputusan untuk berperang bukan hanya soal kemampuan militer, tetapi juga menyangkut stabilitas politik domestik.
Keterlibatan dalam perang juga dinilai berisiko memicu ketegangan internal di sejumlah negara Teluk yang memiliki dinamika politik sensitif.
Di sisi lain, tekanan ekonomi juga menjadi pertimbangan penting, mengingat perang dapat mengganggu sektor energi yang menjadi tulang punggung ekonomi kawasan.
Para pengamat menilai Iran memanfaatkan strategi tekanan ekonomi dengan menyerang target bernilai tinggi menggunakan rudal dan drone berbiaya rendah.
Strategi ini dinilai efektif dalam menguras sistem pertahanan lawan yang membutuhkan biaya besar untuk mencegat serangan.
Baca juga: Iran Tutup Pintu Damai, Siap Hajar AS-Israel Tanpa Kompromi
Dalam situasi ini, negara-negara Teluk dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan strategi defensif atau meningkatkan respons militer.
Jika serangan Iran terus meningkat dan menyebabkan korban besar, kemungkinan perubahan strategi tetap terbuka.
Namun hingga saat ini, jalur diplomasi dan upaya deeskalasi masih menjadi pilihan utama untuk mencegah konflik meluas menjadi perang regional besar.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan