“Saya kira situasinya tidak seburuk yang dibayangkan, dan ini akan segera berakhir,” ujarnya optimistis.
Baca juga: Laporan Ungkap Deportasi Era Trump Pisahkan Orang Tua dan Anak, Picu Trauma Mendalam
Peristiwa Pearl Harbor
Peristiwa Serangan Pearl Harbor menjadi salah satu titik balik paling dramatis dalam sejarah dunia. Serangan mendadak yang dilakukan
Kekaisaran Jepang terhadap pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Hawaii pada 7 Desember 1941 itu langsung mengubah peta geopolitik global.
Saat itu, Amerika Serikat masih berstatus netral dalam Perang Dunia II.
Namun, serangan besar-besaran tersebut memaksa Negeri Paman Sam menyatakan perang terhadap Jepang hanya sehari setelahnya.
Serangan yang dirancang oleh Laksamana Jepang, Isoroku Yamamoto, bertujuan melumpuhkan Armada Pasifik AS agar tidak mengganggu ekspansi Jepang di Asia Tenggara. Operasi ini dikenal sebagai Operasi Hawaii atau Operasi Z.
Pada pagi hari 7 Desember 1941, sebanyak 353 pesawat tempur, pengebom, dan torpedo diluncurkan dari enam kapal induk Jepang. Dalam dua gelombang serangan, pangkalan Pearl Harbor dihantam habis-habisan.
Akibatnya, delapan kapal perang Amerika rusak—empat di antaranya tenggelam—serta lebih dari 180 pesawat hancur. Total korban mencapai 2.403 orang tewas dan 1.178 luka-luka.
Salah satu tragedi terbesar terjadi pada kapal perang USS Arizona yang meledak dan menewaskan lebih dari 1.100 awak.
Di sisi lain, Jepang hanya kehilangan 29 pesawat dan beberapa kapal selam mini. Operasi ini dinilai sebagai keberhasilan taktis besar dalam sejarah militer modern.
Namun di balik keberhasilan tersebut, serangan Pearl Harbor justru menjadi bumerang strategis. Presiden AS saat itu, Franklin D. Roosevelt, menyebut hari itu sebagai “tanggal yang akan dikenang sebagai hari yang penuh kehinaan,” sebelum resmi membawa Amerika masuk ke perang global.
Dampaknya sangat luas. Amerika Serikat segera mengerahkan kekuatan militer dan industrinya secara besar-besaran. Dalam waktu singkat, negara tersebut bertransformasi menjadi kekuatan utama yang menentukan jalannya perang.
Tak hanya itu, serangan ini juga memicu eskalasi konflik global. Pada 11 Desember 1941, Jerman dan Italia menyatakan perang terhadap Amerika Serikat, memperluas konflik menjadi perang dunia yang sesungguhnya.
Meski Jepang sempat unggul di awal dengan menguasai sebagian besar Asia Tenggara dan Pasifik, para analis sejarah menilai Pearl Harbor sebagai kesalahan fatal.
Baca tanpa iklan