TRIBUNNEWS.COM - Pidato Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump soal perang Iran membuat bingung para senator di dalam negeri.
Dalam pidatonya, Trump dengan percaya diri mengklaim bahwa militer AS hampir mencapai kemenangan total dan menyebut musuh-musuh mereka sedang di ambang kehancuran.
Namun, di saat yang sama, ia menyatakan bahwa operasi militer masih akan berlanjut hingga beberapa minggu ke depan.
Pernyataan ini yang membuat tanda tanya besar di kalangan para senator AS.
Senator Demokrat, Chris Van Hollen secara terbuka mempertanyakan logika sang presiden.
"Kalau memang sudah menang, kenapa kita masih berperang? Apa sebenarnya langkah selanjutnya?" cetusnya, mengutip WANA.
Pemimpin Demokrat Senat, Chuck Schumer, menggambarkan pidato tersebut sebagai salah satu pidato masa perang yang "paling terputus-putus dan tidak koheren".
Ia menekankan bahwa Trump gagal menetapkan tujuan yang jelas sambil membebankan biaya besar kepada rakyat Amerika.
Kemudian Pemimpin Minoritas Kongres AS, Hakeem Jeffries menyerukan diakhirinya apa yang ia sebut sebagai "perang yang gegabah".
"Rakyat Amerika lelah dengan kekacauan dan biaya yang ditimbulkannya," tegas Jeffries.
Kritik paling tajam datang menyusul ancaman Trump yang berniat menargetkan infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik di Iran.
Baca juga: Sebelum Mengakhiri Perang, Trump Bakal Kembalikan Iran ke Zaman Batu Selama 3 Pekan
Sejumlah pengamat hukum internasional dan jurnalis senior menilai langkah tersebut bisa dikategorikan sebagai hukuman kolektif yang melanggar hukum perang.
"Ini bukan lagi soal target militer. Menghancurkan pembangkit listrik adalah kejahatan perang," tulis analis Seth Hettena.
Di tingkat internasional, pidato tersebut juga menimbulkan pertanyaan serius.
AFP mengutip Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, melaporkan bahwa tujuan awal perang telah "tercapai", sehingga tidak jelas keuntungan apa lagi yang akan diperoleh dari kelanjutan pertempuran.
Baca tanpa iklan