TRIBUNNEWS.COM - Kim Yo-jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un yang berpengaruh dan direktur departemen partai penguasa negara itu, memuji Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung yang meminta maaf atas insiden drone yang melanggar wilayah udara Korea Utara.
Kim Yo-jong menyebut pemerintah Korea Utara memandang Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung sebagai sosok yang "terus terang dan berpikiran luas".
"Sangat beruntung bahwa Presiden Lee secara langsung menyatakan penyesalannya dan menyebutkan langkah-langkah untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, dan pemerintah kami memandang ini sebagai keputusan bijak baginya," kata Kim Yo-jong, Senin (6/4/2026).
Kim Yo-jong mengatakan Lee Jae Myung telah mengakui "tindakan tidak bertanggung jawab dan gegabah" dari oknum di Korea Selatan terkait serangan pesawat tak berawak ke Korea Utara, yang menurutnya telah meningkatkan ketegangan militer secara tidak perlu.
"Pemimpin negara kita menilai ini sebagai menunjukkan sikap seseorang yang jujur dan berpikiran terbuka," tambah Kim Yo-jong.
Terlepas dari penilaian positif tersebut, Kim mengeluarkan peringatan kepada Korea Selatan.
“Korea Selatan tidak hanya harus mengulangi bahwa perdamaian dan stabilitas itu penting, tetapi harus menghentikan semua provokasi sembrono terhadap Republik Demokratik Rakyat Korea demi keselamatannya sendiri dan harus meninggalkan setiap upaya untuk melakukan kontak,” kata Kim Yo-jong.
“Jika tindakan provokatif yang melanggar kedaulatan suci dan tak tergoyahkan negara kita diulangi, Korea Selatan harus ingat sekali lagi bahwa mereka akan membayar harga yang mahal, seperti yang telah diperingatkan,” tambahnya, seperti diberitakan Korea JoongAng Daily.
Presiden Korea Selatan Minta Maaf ke Korea Utara
Pada Senin pagi, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyatakan penyesalannya atas penerbangan drone oleh individu ke Korea Utara, mengatakan bahwa perilaku tersebut telah menyebabkan ketegangan militer yang tidak perlu dengan Pyongyang.
Baca juga: Kim Jong Un Resmi Sebut Korsel Musuh Utama, Tegaskan Arah Baru Korea Utara
Lee menyampaikan pernyataan tersebut selama rapat Kabinet setelah jaksa pekan lalu mendakwa tiga individu yang dituduh menerbangkan drone ke Korea Utara antara September 2025 dan Januari 2026.
Tiga orang tersebut yaitu seorang karyawan Badan Intelijen Nasional, seorang perwira militer Korea Selatan, dan seorang mahasiswa pascasarjana.
Ketiga didakwa karena mengirimkan UAV ke Korea Utara antara September 2025 dan Januari 2026.
Korea Selatan sebelumnya membantah keterlibatan resmi apa pun dalam serangan tersebut, mengklaim itu adalah pekerjaan warga sipil.
Berbicara mengenai insiden drone selama rapat kabinet pada hari Senin, Lee menekankan, "Meskipun ini bukan tindakan pemerintah kami, saya menyampaikan penyesalan kepada pihak Korea Utara atas ketegangan militer yang tidak perlu yang disebabkan oleh perilaku sembrono tersebut."
“Individu-individu tersebut melakukan tindakan provokatif seperti itu... atas kemauan mereka sendiri,” katanya, seraya menyebut perilaku mereka tidak dapat diterima dan tidak bertanggung jawab.
“Kita perlu mempertimbangkan dengan cermat siapa sebenarnya yang diuntungkan dari tindakan tersebut,” tambah presiden.
Lee Jae Myung menginstruksikan instansi pemerintah terkait untuk mengubah peraturan guna memastikan pelanggaran wilayah oleh drone tidak terulang kembali di masa mendatang.
Korea Utara Tembak Jatuh Drone di Wilayahnya
Pada awal Januari, Korea Utara mengumumkan penembakan jatuh sebuah UAV yang membawa peralatan pengawasan di atas wilayahnya dan menerbitkan foto-foto puing pesawat tersebut.
Pyongyang kemudian memperingatkan Seoul akan tanggapan yang mengerikan jika mendeteksi lebih banyak drone yang melanggar wilayah udaranya.
Baca tanpa iklan