Saat Piala Dunia Tak Lagi Gegap Gempita: Ketika Harga, Visa, dan BBM Mengalahkan Euforia
TRIBUNNEWS.COM - Piala Dunia FIFA 2026 resmi dimulai pada Kamis (11/6), namun pesta sepak bola terbesar di dunia itu justru dibayangi oleh persoalan yang tidak biasa.
Alih-alih memicu ledakan kunjungan wisatawan internasional, sejumlah indikator menunjukkan kalau sektor perjalanan dan pariwisata di Amerika Serikat belum menikmati dampak ekonomi yang selama ini diperkirakan.
Baca juga: Suporter Brasil di Indonesia Wajib Tahu, Ini Peluang Neymar Main di Laga Perdana Kontra Maroko
Selama bertahun-tahun, penyelenggaraan Piala Dunia diyakini mampu menjadi mesin penggerak ekonomi melalui kedatangan jutaan suporter dari berbagai negara.
Namun, hingga awal turnamen, hotel, maskapai penerbangan, dan pelaku industri wisata di sejumlah kota tuan rumah masih menunggu lonjakan yang belum kunjung datang.
Kondisi ini menjadi perhatian karena Piala Dunia 2026 merupakan edisi terbesar sepanjang sejarah, dengan 48 tim peserta dan pertandingan yang digelar di 16 kota di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Antusiasme Global Dinilai Belum Maksimal
Mengutip ulasan Khrbn, Jumat (12/6/2026), pelaku industri menilai antusiasme suporter internasional terhadap turnamen kali ini tidak setinggi edisi-edisi sebelumnya.
Hotel yang semula berharap tingkat hunian meningkat drastis justru harus menurunkan tarif kamar.
Sementara itu, pemesanan penerbangan ke sejumlah kota penyelenggara juga belum menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Analis industri pariwisata menyebut fenomena ini menandai perubahan pola perjalanan suporter sepak bola dunia.
Jika pada masa lalu banyak penggemar rela melakukan perjalanan jauh dan mengeluarkan biaya besar demi mendukung tim nasional mereka secara langsung, kini faktor ekonomi menjadi pertimbangan yang jauh lebih dominan.
Tingginya harga tiket pertandingan, mahalnya biaya akomodasi dan transportasi, serta proses perolehan visa dinilai menjadi hambatan utama.
Selain itu, penyelenggaraan turnamen di tiga negara dengan 16 kota tuan rumah juga membuat perencanaan perjalanan menjadi lebih rumit dan mahal dibandingkan Piala Dunia yang terpusat di satu negara.
Hotel Turunkan Ekspektasi
Vijay Dandapani, CEO Hotel Association of New York City, menyebut kondisi tersebut sebagai sebuah kekecewaan bagi industri perhotelan.
Menurutnya, asosiasi hotel di New York bahkan memangkas proyeksi pendapatan kamar yang terkait dengan Piala Dunia hingga 60 persen menjadi sekitar 60 juta dolar Amerika Serikat.
Baca tanpa iklan