News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Akui AS-Israel Tak Prediksi Dampak Selat Hormuz, Netanyahu: Mojtaba Masih Hidup dan Sembunyi

Penulis: Hasiolan Eko P Gultom
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

NETANYAHU DAN MOJTABA KHAMENEI - PM Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Netanyahu ancam Khamenei dalam kemunculan pertamanya dalam 12 hari perang Iran.

Akui AS-Israel Tak Prediksi Dampak Selat Hormuz, Netanyahu: Mojtaba Khamenei Masih Hidup dan Sembunyi

Ringkasan Berita:

  • Netanyahu menyebut Mojtaba Khamenei diyakini masih hidup dan bersembunyi di bunker.
  • PM Israel juga mengakui AS dan Israel tidak memperkirakan dampak strategis Iran di Selat Hormuz.
  • Netanyahu menegaskan perang belum berakhir selama uranium dan fasilitas nuklir Iran masih ada.

 

TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyatakan dirinya meyakini Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei masih hidup dan saat ini diduga bersembunyi di lokasi rahasia di tengah konflik yang terus memanas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS).

Dalam wawancara dengan program “60 Minutes” CBS News, Netanyahu mengatakan Mojtaba Khamenei kemungkinan berada di bunker atau tempat perlindungan rahasia setelah sebelumnya jarang terlihat di publik sejak menggantikan Ali Khamenei yang disebut tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel.

Baca juga: Misteri Mojtaba Khamenei: Presiden Iran Klaim Sudah Bertemu Pemimpin Tertinggi

“Saya pikir dia masih hidup. Tetapi bagaimana kondisinya, sulit dikatakan. Dia bersembunyi di bunker atau tempat rahasia,” ujar Netanyahu, Senin (11/5/2026).

Menurut Netanyahu, Mojtaba saat ini tengah berupaya memperkuat otoritasnya sebagai pemimpin baru Iran, meski pengaruhnya dinilai belum sekuat pendahulunya.

Akui AS-Israel Salah Perkiraan Soal Selat Hormuz

Dalam wawancara yang sama, Netanyahu juga mengakui Israel dan Amerika Serikat tidak sepenuhnya memperkirakan dampak strategis yang dapat ditimbulkan Iran melalui kendalinya atas Selat Hormuz sebelum perang pecah.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.

Sekitar seperlima distribusi minyak global melewati jalur sempit tersebut.

Ancaman gangguan pelayaran atau blokade di Hormuz membuat kawasan itu menjadi titik paling sensitif dalam konflik Iran dengan Barat.

Pernyataan Netanyahu muncul ketika ketegangan di Hormuz kembali meningkat menyusul ancaman Iran terhadap kehadiran kapal perang asing dan blokade maritim yang dilakukan Amerika Serikat.

Baca juga: Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Keluarkan Perintah Baru: Lanjutkan Perang Lawan AS

BOM ISRAEL - Asap hitam membumbung saat rudal dari serangan udara Israel menghantam sebuah lokasi di Teheran, Iran, Jumat (13/3/2026). Iran membalas dengan melancarkan gelombang serangan baru yang menyasar hampir setiap wilayah pendudukan Israel. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

Perang Belum Berakhir

Netanyahu juga menegaskan bahwa perang terhadap Iran “belum berakhir” selama program nuklir Teheran masih berjalan.

“Perang belum selesai karena masih ada material nuklir, uranium yang diperkaya, yang harus dipindahkan dari Iran. Masih ada fasilitas pengayaan yang harus dibongkar,” kata Netanyahu.

Ia menyebut kemampuan nuklir Iran memang telah dilemahkan, termasuk jaringan proksi dan kapasitas produksi rudalnya. Namun menurutnya, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Ketika ditanya apakah rezim Iran dapat dijatuhkan, Netanyahu mengatakan hal tersebut mungkin terjadi tetapi tidak dapat dipastikan.

“Apakah itu mungkin? Ya. Apakah itu dijamin? Tidak,” ujarnya.

Di tengah situasi tersebut, upaya diplomatik antara Washington dan Teheran juga masih menemui jalan buntu.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak proposal perdamaian terbaru Iran dan menyebutnya “totally unacceptable”.

Proposal AS sendiri meminta Iran menghentikan pengayaan uranium selama sedikitnya 12 tahun serta menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen.

Sebagai imbalan, Washington menawarkan pelonggaran sanksi dan penghentian blokade laut terhadap pelabuhan Iran.

Sementara itu, Iran mengajukan proposal tiga tahap yang mencakup penghentian perang, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta penundaan negosiasi nuklir hingga gencatan senjata tercapai.



Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini