TRIBUNNEWS.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pintu negosiasi masih terbuka, walaupun tingkat kepercayaan terhadap Amerika Serikat masih rendah.
"Teheran menganggap negosiasi dengan Amerika Serikat mungkin dilakukan, meskipun ada kurangnya kepercayaan terhadap negara tersebut," kata Pezeshkian dalam pernyataan kantor media kepresidenan Iran, Selasa (12/5/2026).
Namun, ia menegaskan Iran harus tetap menguatkan capaian yang telah diperoleh, baik di bidang militer maupun diplomasi.
Juru pemerintah Iran menegaskan Teheran tetap siaga di tengah perundingan dan gencatan senjata yang berlangsung.
"Kami tetap siaga, tetapi fokus kami tetap pada perdamaian yang berkelanjutan," kata juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani.
Ia juga mengindikasikan bahwa pihak berwenang Iran berkomitmen pada jalur diplomasi dan solusi yang didasarkan pada kepentingan negara dan rakyat Iran, menurut laporan kantor berita NASA.
Ketua Parlemen Iran Memperingatkan AS
Pernyataan Presiden Iran muncul di tengah meningkatnya tekanan politik dari dalam negeri Iran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan Amerika Serikat agar menerima proposal 14 poin yang diajukan Teheran untuk mengakhiri konflik, atau menghadapi kegagalan dalam proses perundingan.
"Angkatan bersenjata kita siap memberikan respons peringatan terhadap setiap tindakan agresi. Strategi yang salah dan keputusan yang keliru pasti akan berujung pada hasil yang mengerikan—sebuah kenyataan yang telah lama diakui dunia. Kita siap menghadapi semua skenario; mereka akan terkejut," tulis Qalibaf.
Baca juga: Iran Naik Pitam! Ancam Beri Pelajaran Tak Terlupakan ke AS Usai Tolak Proposal Perdamaian
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak tanggapan Iran terhadap proposal terbaru Washington.
Ia menyebut situasi gencatan senjata yang berlaku sejak 8 April berada dalam kondisi “sangat rapuh”.
Iran sendiri menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur dari posisi terkait program nuklir maupun kebijakan di Selat Hormuz.
Teheran juga meminta agar perang dihentikan di semua lini, termasuk di Lebanon, serta menuntut pencabutan blokade laut AS dan pembebasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Menurut laporan, proposal terbaru Amerika Serikat berisi kerangka awal untuk menghentikan pertempuran dan membuka jalan negosiasi lanjutan dalam 30 hari, khususnya terkait program nuklir Iran.
Salah satu titik paling krusial dalam perundingan adalah persediaan uranium Iran yang telah diperkaya tinggi, seperti diberitakan Al Arabiya.
Baca tanpa iklan