Amerika Serikat meminta material tersebut dipindahkan keluar dari Iran, namun permintaan ini ditolak oleh Teheran yang tetap bersikeras bahwa mereka berhak menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai.
Iran juga menyatakan bahwa tingkat pengayaan uranium masih bisa dibicarakan dalam perundingan, tetapi tidak untuk diserahkan sepenuhnya.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dimulai pada 28 Februari 2026 setelah AS dan Israel menyerang sejumlah fasilitas strategis di Iran, hanya dua hari setelah kegagalan perundingan nuklir di Jenewa.
AS dan Israel menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran menegaskan programnya bersifat damai untuk energi dan penelitian.
Dalam serangan awal, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei tewas dan digantikan oleh Mojtaba Khamenei.
Konflik kemudian meluas setelah Iran membalas dengan menyerang Israel serta beberapa pangkalan militer AS di Timur Tengah, termasuk di negara-negara Teluk.
Iran juga menghentikan negosiasi nuklir dan membatasi pelayaran di Selat Hormuz yang memicu gangguan energi global.
Setelah sekitar 40 hari perang, kedua pihak menyepakati gencatan senjata sementara pada 8 April 2026 yang kemudian diperpanjang, meski ketegangan tetap berlanjut.
Upaya mediasi melalui Pakistan masih berjalan, termasuk pertukaran proposal damai.
Namun situasi kembali memanas setelah AS meluncurkan operasi “Project Freedom” di Selat Hormuz yang kemudian sempat dihentikan untuk membuka ruang diplomasi.
Pada 10–11 Mei 2026, negosiasi kembali gagal setelah Iran menolak proposal AS, memicu pembahasan opsi militer baru oleh Washington, termasuk serangan udara lanjutan dan pengaktifan kembali operasi di Selat Hormuz.
Terkait uranium Iran, Israel mendukung ambisi Trump untuk merebut dan memindahkannya dari Iran, salah satu hal yang ditolak oleh Iran karena menganggap itu bukan bagian dari proposal yang mereka ajukan.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan