Ringkasan Berita:
- Iran memperluas zona operasional Selat Hormuz menjadi kawasan strategis yang lebih luas.
- Iran mengklaim kapal fregat Amerika Serikat dipaksa berbalik setelah ditembak peringatan.
- Ketua Parlemen Iran memperingatkan Teheran siap memberi “respons hukuman” atas setiap agresi.
TRIBUNNEWS.COM - Iran menyatakan telah secara signifikan memperluas cakupan operasional Selat Hormuz, sebagai bagian dari strategi baru pengamanan kawasan strategis tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Mohammad Akbarzadeh, asisten politik Komandan Angkatan Laut Korps Pengawal Revolusi Islam.
Menurut Akbarzadeh, wilayah operasional kini mencakup area yang membentang dari pantai Jask dan Sirri hingga ke luar pulau-pulau besar di sekitar Selat Hormuz.
Ia menyebut kawasan itu kini diperlakukan sebagai zona strategis dengan cakupan pengawasan yang lebih luas dibanding sebelumnya.
“Selat Hormuz sebelumnya dianggap sebagai zona terbatas di sekitar pulau-pulau seperti Hormuz dan Hengam."
"Kini zona itu telah diperluas menjadi wilayah operasional yang lebih besar,” ujarnya, mengutip Al Mayadeen, Selasa (12/5/2026).
Akbarzadeh juga mengklaim pasukan Iran baru-baru ini mendeteksi sebuah fregat (kapal perang) milik Amerika Serikat (AS) yang berusaha melintas di Selat Hormuz.
Ia mengatakan angkatan laut Iran melepaskan tembakan peringatan sehingga kapal perang tersebut mengubah arah.
Menurutnya, Iran terus memantau secara ketat seluruh pergerakan militer asing di kawasan dan tidak akan membiarkan adanya ancaman terhadap wilayah perairan maupun kepentingan nasionalnya.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan Angkatan Bersenjata Iran siap memberikan “respons hukuman” terhadap setiap agresi terhadap Republik Islam.
Baca juga: Presiden Iran Masih Bersedia Negosiasi dengan AS, tetapi Tak Percaya Penuh
Dalam pernyataannya di platform X pada 11 Mei, Ghalibaf mengatakan Iran siap menghadapi semua opsi dan memperingatkan bahwa musuh-musuh Teheran akan terkejut dengan kemampuan respons Iran.
Ia juga menegaskan bahwa pengakuan terhadap hak-hak rakyat Iran menjadi satu-satunya jalan dalam kerangka negosiasi yang sedang berlangsung, sembari memperingatkan bahwa penundaan kesepakatan hanya akan meningkatkan biaya bagi AS.
Kapal Perang Kerajaan Inggris HMS Dragon Lakukan Misi di Selat Hormuz Iran
Pemerintah Inggris mengirim kapal perang Angkatan Laut Kerajaan Inggris, HMS Dragon, ke Timur Tengah, disebut-sebut bersiap bergabung dalam misi multinasional pengamanan Selat Hormuz.
Selat Hormuz diketahui menjadi salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia karena menjadi lintasan utama distribusi minyak, gas, serta berbagai komoditas global lainnya, termasuk pupuk.
Langkah ini dilakukan di tengah situasi kawasan yang masih memanas meski gencatan senjata antara Iran dan pasukan Amerika Serikat (AS)-Israel telah diberlakukan.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan HMS Dragon akan ditempatkan lebih awal sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan operasi internasional.
Yakni guna menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap aman, mengutip Al Jazeera, Sabtu (9/5/2026).
“Kami dapat mengonfirmasi bahwa HMS Dragon akan dikerahkan ke Timur Tengah untuk melakukan pra-posisi menjelang misi multinasional di masa depan."
"Guna melindungi pelayaran internasional ketika kondisi memungkinkan mereka untuk transit di Selat Hormuz,” kata juru bicara tersebut.
Menurut pemerintah Inggris, pengerahan HMS Dragon merupakan bagian dari perencanaan strategis Inggris bersama Prancis dalam membentuk koalisi internasional yang bertujuan menjamin kebebasan navigasi di jalur vital perdagangan dunia tersebut.
“Pra-posisi HMS Dragon adalah bagian dari perencanaan yang akan memastikan Inggris siap, sebagai bagian dari koalisi multinasional yang dipimpin bersama oleh Inggris dan Prancis, untuk mengamankan selat ketika kondisi memungkinkan,” lanjut pernyataan itu.
HMS Dragon Dipindahkan Dari Mediterania Timur
HMS Dragon sendiri dipindahkan dari Mediterania timur, tempat kapal tersebut sebelumnya bertugas melindungi pangkalan Inggris di Siprus, mengutip lbc.co.uk.
Dengan pemindahan ini, kapal perusak tersebut dapat segera terlibat apabila misi pengamanan Selat Hormuz resmi diluncurkan.
Di sisi lain, situasi keamanan di kawasan masih dinilai rapuh.
Meski gencatan senjata masih berlangsung, ketegangan belum sepenuhnya mereda setelah serangan pada Jumat (8/5/2026) dilaporkan terjadi ketika pasukan AS menghantam dua kapal tanker Iran yang dituding mencoba melanggar blokade yang diterapkan Presiden AS Donald Trump.
Rencana misi pengamanan Selat Hormuz sendiri disebut didorong oleh Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron, dengan melibatkan koalisi negara-negara yang bersedia menjaga stabilitas jalur pelayaran internasional di kawasan tersebut.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)
Baca tanpa iklan