Sementara itu, Pakistan baru saja membagikan proposal perdamaian dari Iran yang telah direvisi kepada Amerika Serikat pada Minggu (17/5/2026), lapor Reuters pada Senin, mengutip sumber Pakistan.
Mengutip Iran International, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran sangat ingin mencapai kesepakatan, tetapi menuduh negara itu mengubah persyaratan setelah kesepakatan dibahas dalam sebuah wawancara dengan Fortune.
“Mereka selalu berteriak,” kata Trump.
“Saya dapat memberi tahu Anda satu hal, mereka sangat ingin menandatangani kesepakatan. Tetapi mereka membuat kesepakatan, lalu mengirimkan dokumen yang tidak ada hubungannya dengan kesepakatan yang telah dibuat. Saya berkata, ‘Apakah kalian gila?’”
Trump juga mengatakan, angka-angka ekonomi, termasuk suku bunga, tidak dapat dinilai sepenuhnya sampai konflik berakhir.
“Anda tidak dapat benar-benar melihat angka-angka tersebut sampai perang berakhir.”
Pakar: AS Mungkin Akan Melanjutkan Serangannya terhadap Iran dalam 24-48 Jam ke Depan
Mohamad Elmasry, profesor Studi Media di Institut Studi Pascasarjana Doha, berpendapat AS kemungkinan akan melanjutkan perang terhadap Iran dalam satu atau dua hari ke depan.
Hal itu, menurut Elmasry kepada Al Jazeera, disebabkan Trump mendapat tekanan dari berbagai pihak, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan kelompok garis keras di dalam pemerintahannya sendiri.
“Dia belum mendapatkan penyerahan diri yang diinginkannya dari Iran dan yang diharapkannya dari Iran."
"Trump juga mengharapkan negosiasi berjalan berbeda dan memiliki harapan tinggi selama pertemuan puncak baru-baru ini di China bersama Xi Jinping.”
Elmasry mengatakan, akan lebih bijaksana bagi Trump untuk mengakhiri perang pada tahap ini karena konflik tersebut telah menjadi bencana politik dan ekonomi bagi dirinya maupun AS.
Namun, menurutnya, Trump kemungkinan besar tidak akan melakukannya karena ia tidak dapat kembali kepada rakyat Amerika dengan deklarasi kemenangan yang meyakinkan.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan