News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Terima Tanggapan AS, Washington Ogah Turuti Permintaan Teheran

Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Yurika NendriNovianingsih
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

JUBIR KEMENLU IRAN - Foto juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, diunduh dari laman Kementerian Luar Negeri Iran, Senin (18/5/2026). Pada 18 Mei 2026, Iran menerima tanggapan dari AS terhadap proposal yang diajukan sebelumnya. Washington menolak tuntutan Teheran dalam proposal tersebut.

Pernyataan itu muncul setelah sumber dari Pakistan mengungkap bahwa proposal revisi dari Iran telah dikirimkan kepada pemerintah AS, sementara kedua negara disebut masih terus mengubah syarat dalam proses negosiasi.

Meski komunikasi diplomatik masih berjalan melalui Pakistan, hingga kini belum ada titik temu antara kedua pihak.

Iran menilai Amerika Serikat tidak mau memberikan konsesi penting, sementara Washington tetap mempertahankan tuntutannya terkait program nuklir Iran dan pembatasan fasilitas nuklir Teheran.

Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah Washington bersama Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis milik Iran. Serangan itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir di Jenewa gagal mencapai kesepakatan baru mengenai program nuklir Teheran.

Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran tengah mengembangkan senjata nuklir. Namun, Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kebutuhan energi dan riset sipil.

Ketegangan semakin meningkat setelah serangan awal dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Kepemimpinan Iran kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel dan beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Teheran juga menghentikan pembicaraan nuklir serta memperketat blokade di Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia, sehingga memicu gangguan pasokan energi global dan kenaikan harga minyak internasional.

Setelah konflik berlangsung sekitar 40 hari, kedua pihak akhirnya menyetujui gencatan senjata sementara pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan.

Di tengah situasi tersebut, Amerika Serikat sempat menjalankan operasi militer bernama “Project Freedom” di Selat Hormuz. Namun, operasi itu kemudian dihentikan sementara demi memberi kesempatan bagi jalur diplomasi.

Meski begitu, proses negosiasi kembali menemui jalan buntu pada 10–11 Mei setelah Iran menolak proposal terbaru dari pemerintahan Donald Trump. Salah satu hambatan utama adalah tuntutan Amerika Serikat dan Israel agar cadangan uranium Iran dipindahkan ke luar negeri.

Iran menolak syarat tersebut karena dinilai bertentangan dengan kedaulatan nasionalnya. Hingga kini, pembicaraan damai masih belum menemukan titik temu karena masing-masing pihak tetap mempertahankan tuntutan dan posisinya masing-masing.

Setelah pembicaraan Trump dan Xi Jinping di China pada hari Kamis, Presiden AS mengatakan Xi setuju untuk tidak memberikan peralatan militer kepada Iran, menentang militerisasi di Selat Hormuz, dan sepakat untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, seperti diberitakan Al Jazeera.

Pada 18 Mei, Iran mengatakan telah menerima tanggapan AS terkait proposal yang diajukan Iran sebelumnya, namun tanggapan tersebut berisi penolakan.

Sementara Trump mengklaim bahwa Iran sangat ingin menandatangani perjanjian dengan AS.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini