Percakapan panas yang berlangsung pada Selasa (19/5/2025) mencerminkan perbedaan besar antara Washington dan Tel Aviv mengenai langkah selanjutnya dalam konflik dengan Teheran.
Menurut pejabat Amerika Serikat yang dikutip CNN International, Netanyahu mendesak Trump untuk segera melanjutkan operasi militer terhadap Iran. Namun Trump memilih menahan serangan dan tetap memberi ruang bagi jalur diplomasi.
Perbedaan pandangan ini memperlihatkan mulai munculnya retakan dalam koordinasi strategis antara AS dan Israel di tengah meningkatnya ketegangan Timur Tengah.
Sebelumnya, Trump dan Netanyahu juga melakukan pembicaraan pada Minggu lalu. Dalam percakapan itu, Trump disebut memberi sinyal bahwa Amerika Serikat kemungkinan akan meluncurkan serangan terarah baru terhadap Iran pada awal pekan ini.
Operasi tersebut bahkan dilaporkan telah disiapkan dengan nama baru, yakni “Operation Sledgehammer”.
Namun situasi berubah drastis hanya sekitar 24 jam kemudian. Trump secara mengejutkan memutuskan menunda serangan tersebut setelah mendapat permintaan dari sejumlah sekutu utama Amerika di kawasan Teluk.
Netanyahu Khawatir Iran Diuntungkan oleh Penundaan
Keputusan tersebut sontak memicu kekecewaan besar di pihak Israel. PM Netanyahu khawatir keputusan Amerika Serikat menunda rencana serangan terhadap Iran justru akan memberi keuntungan strategis bagi Teheran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran utama Netanyahu muncul karena Israel meyakini Iran dapat memanfaatkan waktu penundaan tersebut untuk memperkuat kemampuan militernya, mempercepat program pertahanan, hingga melanjutkan pengembangan yang berkaitan dengan program nuklirnya.
5. Menerjang Blokade AS, IRGC Kawal Ketat 26 Kapal Keluar-Masuk Selat Hormuz dalam 24 Jam
Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat.
Terkini, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah mengoordinasikan perjalanan 26 kapal keluar-masuk jalur laut strategis tersebut dalam 24 jam terakhir.
Al Jazeera melaporkan kapal-kapal itu terdiri dari tanker minyak, kapal kontainer, hingga kapal dagang yang melintas setelah mendapat izin dan pengawalan dari Angkatan Laut IRGC.
“Lalu lintas melalui Selat Hormuz dilakukan dengan izin dan berkoordinasi dengan Angkatan Laut IRGC,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip kantor berita ISNA.
Iran juga menerbitkan peta baru wilayah kontrol maritim di Selat Hormuz melalui Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA).
Zona itu disebut membentang dari Kuh-e Mubarak di Iran hingga wilayah selatan Fujairah, Uni Emirat Arab, serta mencakup area dari Pulau Qeshm hingga Umm al-Quwain.
Langkah tersebut mempertegas klaim Iran bahwa mereka masih memegang kendali atas jalur energi paling vital di dunia meski mendapat tekanan besar dari Amerika Serikat.
Dilansir Reuters, sekitar seperlima ekspor energi global sebelumnya melewati Selat Hormuz sebelum perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari 2026.
Sebagai respons terhadap blokade Iran di jalur tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang berdampak langsung pada ekspor minyak Teheran.
Situasi itu kini menekan pasar energi global dan memunculkan ancaman baru terhadap rantai pasok pangan dunia.
(Tribunnews.com)
Baca tanpa iklan