"Bagi saya, Henry bukanlah berita utama atau kasus pengadilan," tulisnya.
"Dia adalah putra sahabat saya yang lucu, perhatian, dan nakal."
"Henry memiliki cara untuk membuat orang tersenyum tanpa perlu berusaha. Dia memiliki begitu banyak kehidupan di depannya, begitu banyak rencana, dan begitu banyak cinta untuk diberikan."
Saudarinya, Olivia Nowak, mengatakan ia bangga menjadi kakak Henry.
Dalam unggahan Facebook pada Januari lalu, Olivia mengungkapkan sekitar 600 pelayat dari komunitas lokal menghadiri pemakaman Henry, sementara banyak lainnya berbaris di jalan dekat sekolah lamanya untuk memberikan penghormatan terakhir.
"Besarnya kasih sayang yang ada di satu ruangan menunjukkan betapa baiknya Henry menjalani hidupnya," katanya.
Kronologi Kejadian
Henry Nowak meninggal dunia pada 3 Desember 2025.
Menurut laman penggalangan dana yang dibuat untuk mengenangnya, malam itu Henry sedang keluar bersama rekan-rekan dari tim sepak bola universitasnya.
Nowak dan Digwa kemudian berpapasan di Belmont Road dan sempat berinteraksi.
Menurut putusan hakim, Nowak sempat bertanya kepada Digwa apakah ia orang jahat.
Komentar tersebut kemungkinan dipicu oleh belati bersarung yang dibawa Digwa sebagai penganut Sikh.
"Nada suaranya tidak agresif atau mengancam, tetapi, seperti yang kemudian terbukti, itu merupakan kesalahan penilaian yang tragis," kata Hakim Mousley.
Perkelahian kemudian terjadi.
Dalam insiden itu, Digwa menusuk dada Nowak hingga tewas dan juga menusuk bagian belakang kakinya sebanyak dua kali.
Digwa lalu mengatakan kepada polisi bahwa dirinya menjadi korban rasisme dari Nowak, sehingga polisi justru menangkap mahasiswa tersebut.
Baca tanpa iklan