Operasi Nasr IRGC Kirim Sinyal Baru: Iran Kini Siap Hadapi Israel Secara Langsung
Ringkasan Berita:
- Operasi Nasr disebut mencerminkan perubahan doktrin Iran, dari mengandalkan kelompok proksi menuju respons militer langsung terhadap serangan yang menyasar sekutunya.
- Serangan balasan Iran ke pangkalan udara Israel dipandang sebagai pesan bahwa Lebanon dan Hezbollah merupakan bagian dari kepentingan strategis Teheran.
- Perubahan strategi ini berpotensi mengubah keseimbangan politik dan keamanan Timur Tengah, sekaligus memengaruhi jalur diplomasi antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
TRIBUNNEWS.COM - Operasi militer yang diberi nama "Nasr" atau "kemenangan" yang diluncurkan Garda Revolusi Iran (IRGC) dinilai menjadi penanda penting perubahan strategi pertahanan dan kebijakan luar negeri Iran.
Sejumlah analis menilai langkah tersebut menunjukkan kalau Teheran kini tidak lagi hanya mengandalkan kelompok sekutu atau perang proksi, tetapi mulai bersedia melakukan konfrontasi langsung untuk melindungi kepentingan regionalnya.
Baca juga: IRGC Iran Luncurkan Operasi Nasr Serang Israel: Houthi Blokade Laut Merah, AS Minta Tel Aviv Sabar
Jika sebelumnya Iran lebih banyak bertindak melalui jaringan aliansi yang dikenal sebagai Axis of Resistance—yang mencakup Hizbullah di Lebanon, kelompok-kelompok bersenjata di Irak, Suriah, hingga Houthi di Yaman—maka Operasi Nasr dianggap sebagai sinyal kalau serangan terhadap sekutu dekat Iran dapat diperlakukan sebagai serangan terhadap negara itu sendiri.
Latar Belakang Operasi Nasr
Menurut berbagai laporan, Operasi Nasr diluncurkan sebagai respons atas serangan Israel terhadap kawasan Dahiyeh di Beirut, Lebanon, yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah.
Iran kemudian meluncurkan serangan rudal ke Pangkalan Udara Nevatim di Israel selatan dan Pangkalan Udara Tel Nof di dekat Tel Aviv.
Serangan tersebut disebut menggunakan sejumlah rudal balistik jarak menengah, termasuk Emad, Qadr-F, dan Kheibar Shekan.
Israel kemudian melakukan serangan balasan yang menyasar fasilitas petrokimia di Iran.
Setelah pertukaran serangan singkat itu, kedua pihak menghentikan operasi militer lebih lanjut.
Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref menyatakan kalau tindakan tersebut berhasil memaksa Israel kembali menerima gencatan senjata.
Sementara itu, mantan Komandan Pertahanan Udara Israel, Tzvika Haimovich, mengakui bahwa serangan itu menunjukkan kemampuan militer Iran masih tetap signifikan.
Pergeseran dari Perang Proksi
Selama bertahun-tahun, strategi keamanan Iran banyak bertumpu pada konsep perang tidak langsung melalui kelompok-kelompok sekutu di kawasan.
Pendekatan ini memungkinkan Teheran mempertahankan pengaruh regional tanpa harus terlibat dalam perang terbuka.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan adanya perubahan.
Baca tanpa iklan