Penggunaan AI Tetap Tumbuh Meski Ada Kekhawatiran
Walaupun pertimbangan etika pengguna dapat memengaruhi penggunaan AI dalam beberapa kasus, seperti konflik Anthropic dengan Departemen Pertahanan, para analis menilai tren pertumbuhan AI secara keseluruhan kemungkinan besar tidak akan berhenti hanya karena perubahan sentimen publik.
“Pertumbuhan adopsi AI yang kuat tidak menunjukkan tanda-tanda melambat,” ujar Hanno Stegmann, direktur pelaksana dan mitra di tim AI dan teknologi Boston Consulting Group (BCG X).
Pernyataan tersebut muncul ketika kekhawatiran terhadap AI semakin meningkat. Anthropic baru-baru ini menyerukan penghentian sementara pengembangan AI global karena memperingatkan bahwa perkembangan tanpa pengawasan dapat menjadi sulit dikendalikan.
“Jika sistem AI mampu sepenuhnya membangun penerusnya sendiri, cara kita mengamankan, memantau, dan mengatur perilakunya menjadi jauh lebih penting,” tulis perusahaan tersebut dalam sebuah unggahan blog.
Peringatan Anthropic sejalan dengan pernyataan sebelumnya dari Paus Leo dalam surat yang diterbitkan pada 25 Mei, yang memperingatkan meningkatnya ketimpangan dan risiko terhadap keselamatan publik akibat permintaan AI yang terus berkembang.
Kekhawatiran serupa juga muncul dalam acara wisuda perguruan tinggi di Amerika Serikat, ketika banyak lulusan baru mengejek penyebutan AI karena khawatir teknologi tersebut dapat menggantikan pekerjaan tingkat awal serta menimbulkan masalah etika dan lingkungan.
Sementara itu, survei CNBC pada Mei menunjukkan bahwa sebagian pekerja menghindari penggunaan AI karena alasan moral, lingkungan, atau privasi.
“Saya memahami mengapa generasi yang memasuki dunia kerja di tengah perubahan besar seperti ini merasa tidak yakin. Itu adalah respons yang wajar terhadap masa transisi yang nyata,” kata Stegmann.
Namun, ketika AI semakin menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, sentimen negatif terhadap teknologi ini kemungkinan hanya memberikan sedikit pengaruh terhadap jumlah pengguna secara keseluruhan.
Survei BCG terhadap sekitar 12.000 pekerja yang dirilis pada 3 Juni menunjukkan bahwa 74% pekerja rutin menggunakan AI, meningkat 23 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih dari 40% pengguna rutin mengatakan AI membantu mereka menghemat waktu kerja setara satu hari penuh setiap minggu.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan pasar AI yang terus berkembang dapat mencapai nilai lebih dari 4,8 triliun dolar AS pada 2033.
“Walaupun sentimen negatif terhadap AI semakin meningkat, konsumen tetap semakin banyak menggunakan dan bergantung pada platform-platform ini,” kata Yousef dari Sensor Tower.
(*)
Baca tanpa iklan