TRIBUNNEWS.COM - Iran akan menjadi negara pertama dalam sejarah Piala Dunia yang bertanding di negara tuan rumah yang sedang berperang dengannya, yakni Amerika Serikat, pada Senin (15/6/2026) mendatang.
Perang Iran–AS yang berlarut-larut turut berdampak besar bagi Indonesia terutama melalui lonjakan harga BBM, inflasi, dan tekanan fiskal.
Para pemain timnas Iran sebelumnya mengikuti sesi latihan pada Kamis di Centro Xoloitzcuintle, Tijuana, Meksiko.
Kamp Piala Dunia Iran di Tijuana berlangsung di bawah pengawalan bersenjata dan bayang-bayang ketegangan politik.
Laga pembuka tim nasional Iran melawan Selandia Baru di Los Angeles akan berlangsung di tengah permusuhan yang masih berlanjut antara Iran dan Amerika Serikat.
Latar belakang yang penuh ketegangan ini membuat pesan persatuan yang selama ini digaungkan Presiden FIFA Gianni Infantino menjadi sasaran kritik para analis.
"Terlepas dari harapan FIFA untuk menjadikan ini sebagai Piala Dunia yang apolitis, ini adalah Piala Dunia yang paling eksplosif secara politik yang pernah ada, dan perang Iran-Amerika Serikat-Israel berada tepat di pusatnya," kata Jules Boykoff, profesor politik di Pacific University, Oregon, sekaligus mantan pesepak bola profesional, dikutip dari Guardian.
"Belum pernah ada Piala Dunia di mana salah satu negara tuan rumah secara terbuka mengancam melakukan kejahatan perang terhadap salah satu negara peserta, sementara negara peserta tersebut pada saat yang sama membom negara peserta lainnya."
"Situasi ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya."
Masalah Markas Latihan, Visa, hingga Tiket Penonton
Para pemain Iran akan turun ke lapangan di Stadion SoFi setelah berbulan-bulan spekulasi mengenai apakah mereka akan diizinkan berpartisipasi.
Keraguan mengenai keterlibatan mereka baru mereda pekan ini setelah anggota skuad memperoleh visa AS, meskipun beberapa pejabat ditolak masuk, termasuk Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, karena pernah menjadi anggota Korps Garda Revolusi Islam.
Baca juga: Menlu Iran Jelaskan Garis Besar MoU Perdamaian dengan AS: Belum Pernah Sedekat Ini
Ketidakpastian tersebut mengganggu persiapan tim dan menimbulkan berbagai persoalan logistik yang dapat mempersulit peluang mereka melaju di turnamen.
Di tengah keraguan mengenai penerimaan mereka di AS, markas latihan tim dipindahkan dari Arizona ke Tijuana, di Meksiko utara.
Para pemain tiba di sana pekan ini setelah menjalani tiga minggu pemusatan latihan di Turki.
Tim akan terbang ke Los Angeles pada hari pertandingan dan langsung kembali ke Meksiko setelah laga usai karena mereka tidak diizinkan untuk bermalam di AS.
Baca tanpa iklan