Negara itu meluncurkan sebuah proses yang akan mengharuskan pemerintahnya untuk berkomitmen pada reformasi politik selama bertahun-tahun bahkan ketika mereka terus melawan invasi Rusia.
Wakil Perdana Menteri Ukraina Taras Kachka akan menghadiri konferensi di Luksemburg untuk membuka pembicaraan tersebut, dan menyebutnya sebagai momen "Rubicon".
"Seluruh masyarakat Ukraina percaya bahwa bergabung dengan Uni Eropa adalah impian kami," katanya.
Moldova juga dijadwalkan secara resmi memulai pembicaraan keanggotaannya.
Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina
Perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada 24 Februari 2022 merupakan puncak dari ketegangan yang telah berlangsung lama antara kedua negara. Akar konflik ini berkaitan dengan perbedaan kepentingan politik, keamanan, dan orientasi kebijakan luar negeri sejak Ukraina merdeka dari Uni Soviet pada tahun 1991.
Seiring waktu, Ukraina semakin mempererat hubungan dengan negara-negara Barat dan menunjukkan keinginan untuk menjadi anggota NATO. Rusia memandang langkah tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan dan kepentingan strategisnya karena memperluas pengaruh NATO hingga mendekati perbatasan Rusia.
Ketegangan meningkat pada tahun 2014 setelah perubahan pemerintahan di Ukraina. Pada periode yang sama, Rusia mengambil alih Semenanjung Krimea, sementara konflik bersenjata pecah di wilayah Donetsk dan Luhansk di bagian timur Ukraina. Meskipun berbagai upaya perdamaian telah dilakukan, perselisihan antara kedua pihak tidak pernah benar-benar terselesaikan.
Pada Februari 2022, Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke Ukraina. Pemerintah Rusia menyatakan operasi tersebut bertujuan melindungi masyarakat berbahasa Rusia dan mencegah perluasan NATO ke wilayah yang dianggap penting bagi keamanan nasionalnya. Namun, Ukraina dan negara-negara Barat menilai tindakan tersebut sebagai invasi terhadap negara berdaulat.
Sejak perang dimulai, Ukraina memperoleh dukungan militer, ekonomi, dan diplomatik dari Amerika Serikat serta sejumlah negara Eropa. Di sisi lain, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang menyasar sektor keuangan, energi, perdagangan, dan berbagai bidang strategis lainnya.
Konflik ini juga memberikan dampak luas terhadap dunia. Gangguan pasokan energi dan pangan global, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi, menjadi konsekuensi yang dirasakan oleh banyak negara.
Hingga kini, perang masih berlangsung meskipun berbagai upaya diplomasi terus diupayakan untuk mencapai penyelesaian damai. Namun, proses negosiasi kerap menemui hambatan akibat perbedaan kepentingan kedua pihak dan dinamika geopolitik internasional yang terus berkembang.
Dalam berbagai perundingan, Rusia mengajukan sejumlah syarat, termasuk penolakan terhadap keanggotaan Ukraina di NATO, pengakuan atas Krimea dan wilayah-wilayah yang diklaim Moskow, pembatasan kekuatan militer Ukraina, serta perlindungan yang lebih besar bagi warga berbahasa Rusia.
Sementara itu, Ukraina tetap menolak tuntutan tersebut dan menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kedaulatan, kemerdekaan, serta keutuhan wilayah negaranya sesuai dengan hukum internasional.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan