TRIBUNNEWS.COM - Media Bloomberg News melaporkan telah memperoleh draf nota kesepahaman antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dijadwalkan akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.
Dokumen tersebut disebut memuat kesepakatan gencatan senjata di seluruh medan konflik, komitmen untuk mencapai perjanjian final dalam waktu 60 hari dengan opsi perpanjangan, serta kewajiban Iran untuk tetap mematuhi ketentuan program nuklirnya saat ini.
Publikasi draf tersebut muncul di tengah meningkatnya perdebatan di Amerika Serikat mengenai isi kesepakatan dan kemungkinan adanya konsesi besar yang diberikan kepada Iran.
Namun, belum dapat dipastikan apakah dokumen yang dipublikasikan Bloomberg News merupakan versi yang sama dengan nota kesepahaman yang diklaim telah ditandatangani secara elektronik pada Senin lalu.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya berjanji akan mempublikasikan isi nota kesepahaman tersebut dalam waktu dua hari dan bahkan menyatakan kesiapannya untuk membacakannya secara terbuka.
Ia juga menegaskan bahwa dokumen itu akan diserahkan kepada Kongres untuk ditinjau lebih lanjut.
Berikut adalah poin-poin penting dari dokumen yang diterbitkan oleh Bloomberg:
- Teheran, Washington, dan sekutu mereka mengumumkan pengakhiran segera dan final perang di semua lini.
- Teheran, Washington, dan sekutu mereka berjanji untuk tidak melancarkan tindakan permusuhan apa pun dan untuk menahan diri dari ancaman.
- Teheran dan Washington berjanji untuk mencapai kesepakatan dalam jangka waktu maksimal 60 hari, yang dapat diperpanjang.
- Amerika Serikat akan mencabut blokade angkatan laut terhadap Iran segera setelah penandatanganan nota kesepahaman.
- Amerika Serikat berjanji untuk menarik pasukannya dalam waktu 30 hari sejak tanggal kesepakatan final.
- Iran akan berupaya untuk melanjutkan lalu lintas pengiriman dalam waktu 30 hari, dengan mempertimbangkan kebutuhannya untuk menghilangkan hambatan.
- Washington berjanji untuk bekerja sama dengan mitra regionalnya dalam rehabilitasi dan pembangunan ekonomi Iran.
- Washington berkomitmen untuk mengakhiri sanksi terhadap Iran sesuai dengan jadwal yang disepakati sebagai bagian dari perjanjian.
- Iran menegaskan kembali bahwa mereka tidak akan pernah memproduksi senjata nuklir.
- Teheran dan Washington sepakat untuk membahas nasib bahan yang diperkaya dan masalah nuklir dalam kesepakatan final.
- Teheran dan Washington sepakat untuk mempertahankan status quo hingga kesepakatan akhir tercapai.
- Iran akan mempertahankan program nuklirnya saat ini tanpa Washington memberlakukan atau meningkatkan sanksi.
- Washington berjanji untuk mengecualikan minyak Iran dan layanan perbankan terkait dari sanksi.
- Washington berjanji untuk melepaskan dana dan aset Iran yang dibekukan.
- Setelah menerima jaminan untuk pelaksanaan beberapa ketentuan perjanjian, kedua negara memulai negosiasi tentang perjanjian akhir.
- Perjanjian akhir antara Washington dan Teheran diadopsi melalui resolusi yang mengikat dari Dewan Keamanan PBB.
Baca juga: Iran Temukan Hulu Ledak Tomahawk Utuh di Teheran, Barat Cemas Teknologi Rudal AS Dibongkar
Washington Menolak Membagikan Teks Kesepakatan AS-Iran Kepada Israel
Saluran TV Israel, Channel12, melaporkan Israel meminta AS untuk membagikan teks nota kesepahaman dengan Iran, tapi permintaan itu ditolak.
Mengutip sumber yang dirahasiakan, Channel12 melaporkan salah satu alasan penolakan itu adalah kekhawatiran pemerintahan Presiden AS Donald Trump bahwa Perdana Menteri Israel Netanyahu akan membocorkan perjanjian itu sebelum dirilis.
Israel masih belum mengetahui rincian lengkap dari perjanjian itu dan penolakan AS mencegah para pejabat Israel mengetahui ketentuan dari kesepahaman terbaru sebelum ditandatangani.
Nota kesepahaman tersebut menjadi kerangka kerja umum bagi negosiasi AS dan Iran untuk membahas program nuklir Iran, dalam waktu 60 hari setelah perjanjian ditandatangani.
Sebelumnya, The Wall Street Journal mengungkapkan kekhawatiran Israel tentang kesepakatan Washington dan Teheran.
Mengutip sumber, The Wall Street Journal mengatakan Netanyahu berupaya mengadakan pertemuan mendesak dengan Trump untuk menyelesaikan "isu-isu yang bertentangan" dalam perjanjian itu.
Kekhawatiran diperparah dengan kurangnya kejelasan mengenai beberapa ketentuan perjanjian tersebut, termasuk tentang program rudal balistik, pembatasan pengaruh Iran di kawasan, dan isu lainnya menurut Israel.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meletus pada 28 Februari 2026 setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis Iran menyusul kegagalan perundingan nuklir di Jenewa.
Baca tanpa iklan