TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Tangis mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim pecah saat mencurahkan isi hatinya terkait kasus dugaan korupsi proyek laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) Kemendikbudristek 2019–2022 yang kini menjerat dirinya.
Pantauan Tribunnews.com di sela sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (21/4/2026) sekira pukul 12.00 WIB, Nadiem tampak keluar dari ruang sidang.
Mengenakan kemeja batik lengan panjang warna krem, penampilan mantan menteri ini kini kontras karena dibalut rompi merah muda khas tahanan Kejaksaan.
Ia digiring oleh sejumlah petugas Kejaksaan menuju ruang tahanan pengadilan karena persidangan tengah diskors oleh majelis hakim.
Di sela-sela momen tersebut, Nadiem sempat memberikan pernyataan emosional mengenai kasus yang melilitnya.
Nadiem menegaskan bahwa program pengadaan laptop Chromebook dan sistem CDM di era kepemimpinannya bukanlah program yang menghasilkan kerugian negara. Sebaliknya, ia mengklaim program tersebut justru menghemat anggaran.
"Program ini bukan program yang menghasilkan kerugian, tapi malah penghematan anggaran karena yang dipilih lebih murah dari harga pasar, yang software-nya gratis," kata Nadiem kepada wartawan di lokasi, Selasa.
Ironi Anak Muda Berantas Korupsi
Dengan suara yang mulai parau, Nadiem menyebut kasus yang menjeratnya merupakan sebuah ironi.
Ia merasa terpukul karena niat awalnya mengajak kaum muda masuk ke birokrasi untuk membersihkan praktik korupsi justru berujung pada tuduhan serupa.
Nadiem sempat menghentikan pembicaraannya sejenak guna menahan tangis yang hampir pecah. Namun, kesedihan mendalam tampak jelas dari raut wajahnya.
"Nah, ini mungkin paradoks, ironi dalam kasus ini. Bahwa anak-anak muda yang mau masuk, mau membersihkan unsur-unsur korupsi, malah yang akhirnya dituduh korupsi," ucap Nadiem sambil terisak.
Lebih lanjut, Nadiem mengaku sangat lelah menghadapi ujian hukum yang menyeret namanya. Ia pun secara terbuka mengungkapkan keinginannya agar perkara ini segera tuntas.
"Saya tuh kepingin, saya hanya mau ini berakhir. Saya sudah capek," ucap Nadiem sembari menundukkan kepala untuk menutupi tangisannya.
Baca juga: KPK Rampas 2 Apartemen Mewah Pasutri Eks Bupati Probolinggo, Diserahkan ke Lemhannas
Ungkapan "capek" tersebut muncul setelah Nadiem menjalani akumulasi proses hukum selama hampir satu tahun.
Nadiem telah melewati 10 bulan proses hukum sejak pemeriksaan perdana di Kejagung, termasuk beban mental menjalani tujuh bulan masa penahanan.
Baca tanpa iklan