"Curcumin yang masuk dalam tubuh akan bereaksi menghentikan produksi sitokin akibat infeksi virus. Sitokin yang bisa menyebabkan kerusakan sel secara terus menerus tidak akan diproduksi dengan adanya curcumin. Jadi meski virusnya ada sel tidak rusak," ujarnya.
Saat ini, Prof Dr Nidom sedang dalam tahap penelitian untuk menguji empon-empon sebagai pengobatan.
Ia menjelaskan tengah melakukan tiga uji coba penelitian menggunakan hewan.
Hewan pertama diberi curcumin kemudian diinfeksi virus, hewan kedua diberi curcumin dan infeksi virus secara bersamaan dan ketiga diinfeksi virus dulu baru diberi curcumin.
"Harapannya yang ketiga itu nanti bisa jadi obat atau vaksin untuk kasus corona yang sedang marak saat ini," pungkasnya. (Surya Malang/Luthfi Husnika)
Baca tanpa iklan