News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Jangan Tunggu Benjolan! Ini Penjelasan Dokter Soal Pentingnya Deteksi Dini Kanker Payudara

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DITEKSI DINI -  Kanker payudara masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat, terutama bagi kaum perempuan.  Data terbaru dari Globocan 2022 mencatat kanker payudara sebagai jenis kanker terbanyak di Indonesia, dengan jumlah kasus mencapai 66.271 dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya dan deteksi dini meningkatkan peluang kesembuhan (IST)

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Setiap Oktober, dunia memperingati Bulan Peduli Kanker Payudara. 

Di tengah maraknya kampanye kesadaran, satu pesan sederhana seolah terus bergema, jangan tunggu benjolan.

Baca juga: Mitos atau Fakta Radiasi Mammografi Bisa Perparah Kanker Payudara? Ini Kata Dokter

Pesan itu bukan sekadar slogan. Di baliknya, ada kenyataan pahit bahwa mayoritas pasien kanker payudara di Indonesia datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah lanjut, sehingga peluang sembuh menjadi lebih kecil.

“Hampir 70 persen pasien kanker datang dalam keadaan yang sudah lanjut,” ujar Spesialis Bedah Konsultan Onkologi dari Eka Hospital BSD, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk, M.Epid, MARS,pada media briefing di Tanggerang Selatan, Senin (6/10/2025).

Menurutnya, angka ini tidak banyak berubah meski kesadaran publik terhadap kanker payudara semakin tinggi. 

Baca juga: Kanker Payudara Bisa Disembuhkan Tapi Banyak Pasien yang Terlambat Ditangani karena Biaya

“Dulu waktu saya masuk kuliah tahun 70-an sudah begitu, sekarang setelah saya pensiun, masih sama juga,” katanya menambahkan.


*Deteksi Dini Menyelamatkan Nyawa*

Kanker payudara adalah kanker yang tumbuh di jaringan kelenjar payudara. 

Sekitar 90 persen kasus berasal dari kelenjar susu atau duktus, sementara sisanya bisa berasal dari jaringan kulit, pembuluh darah, atau jaringan lemak.

“Kalau kita bisa mendeteksi sejak awal, tingkat kesembuhan bisa hampir 100 persen,” jelas dr Sonar. 

Ia menekankan, deteksi dini dapat dilakukan dengan dua cara.

Yaitu Sadari (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dan Sadanis (Pemeriksaan Payudara Klinis). 

Sadari dilakukan sebulan sekali, idealnya seminggu setelah menstruasi, sementara Sadanis bisa dilakukan di fasilitas kesehatan dengan pemeriksaan USG atau mamografi.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO WHO, peluang bertahan hidup lima tahun bagi pasien kanker payudara stadium 0 mencapai 99 persen. 

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini