News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

11 Juta Nyawa Melayang Tiap Tahun, WHO Peringatkan Darurat Kesehatan Otak Dunia

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

otak

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA —Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan keras, dunia kini menghadapi krisis kesehatan otak. 

Laporan terbaru WHO menunjukkan gangguan neurologis bertanggung jawab atas lebih dari 11 juta kematian setiap tahun, dan kini memengaruhi lebih dari 3 miliar orang atau sekitar 40 persen populasi dunia.

Baca juga: 10 Manfaat Melamun untuk Kesehatan Otak: Jadi Liburan Mini di Pikiran, Menjaga Mood

Pola hidup tidak sehat, stres kronis akibat tekanan kerja, serta paparan digital yang berlebihan menjadi pemicu tambahan dalam masyarakat urban.

Kondisi neurologis mencakup berbagai penyakit yang menyerang sistem saraf, seperti stroke, migrain, penyakit Alzheimer, epilepsi, neuropati diabetik, meningitis, hingga gangguan spektrum autisme. 

Gangguan ini bisa muncul akibat faktor genetik, lingkungan, hingga gaya hidup yang tidak seimbang.

Baca juga: 6 Makanan Kaya Nutrisi untuk Jaga Kesehatan Otak dan Suasana Hati

Menurut WHO, sebagian besar negara masih belum siap menghadapi situasi ini. 

Hanya sepertiga negara di dunia yang memiliki kebijakan nasional untuk menangani gangguan neurologis, dan hanya 18 persen yang mengalokasikan dana khusus untuk penanganannya.

“Dengan lebih dari 1 dari 3 orang di dunia hidup dengan kondisi yang memengaruhi otak mereka, kita harus melakukan segala yang kita bisa untuk meningkatkan layanan kesehatan yang mereka butuhkan,” kata Divisi Promosi Kesehatan, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dr. Jeremy Farrar, Asisten Direktur Jenderal WHO, dilansir dari website resmi, Minggu (19/10/2025). 

Ia menekankan, banyak kondisi neurologis sebenarnya bisa dicegah dan diobati. 

Namun, akses layanan kesehatan otak masih belum merata, terutama di negara berpenghasilan rendah dan wilayah pedesaan.

“Banyak dari kondisi neurologis ini dapat dicegah atau diobati secara efektif, namun layanan masih belum terjangkau bagi sebagian besar orang. Terutama di daerah pedesaan dan kurang terlayani, di mana orang-orang terlalu sering menghadapi stigma, pengucilan sosial, dan kesulitan keuangan,” lanjut Farrar.

Selain faktor medis, gaya hidup modern juga memberi tekanan besar pada sistem saraf manusia. 

Stres kerja, kurang tidur, paparan layar gadget berlebihan, hingga kebisingan perkotaan dapat memengaruhi fungsi otak secara jangka panjang. 

WHO mencatat, beban mental akibat stres kronis kini menjadi faktor risiko utama munculnya gangguan saraf ringan hingga berat.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini