TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Stroke masih menjadi salah satu kondisi medis yang paling ditakuti masyarakat.
Tak jarang, keluarga pasien panik saat melihat orang terdekat tiba-tiba lemas, sulit bicara, atau wajah mencong.
Namun, banyak yang belum mengetahui bahwa stroke bukan hanya satu jenis.
Menurut Dokter Spesialis Neurologi Subspesialis Neurovaskular dari RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Bambang Tri Prasetyo, Sp.N, Subsp.N.I.O.O.(K), FINS, stroke secara umum terbagi menjadi dua tipe utama.
Yaitu stroke iskemik (sumbatan pembuluh darah di otak) dan stroke hemoragik (perdarahan di otak).
“Stroke memang dibagi dua secara umum, ada sumbatan atau ischemic, ada perdarahan atau hemoragic,” jelas dr. Bambang pada diskusi media virtual, Kamis (30/10/2025).
Stroke Iskemik: Sumbatan di Pembuluh Darah Otak
Stroke iskemik terjadi ketika aliran darah ke otak tersumbat, sehingga sel otak kekurangan oksigen.
Kondisi ini paling sering terjadi dan menjadi penyebab mayoritas kasus stroke. Gejala bisa muncul tiba-tiba, seperti:
- Lemas mendadak di satu sisi tubuh
- Bicara pelo atau sulit bicara
- Wajah mencong
- Hilang keseimbangan
Jika pasien datang cepat ke rumah sakit, terutama dalam waktu kurang dari 4,5 jam, dokter bisa memberikan obat pengencer darah khusus untuk melarutkan sumbatan.
“Kalau stroke-nya baru satu jam datang ke IGD, biasanya akan dianjurkan pemberian obat pengencer yang kuat, namanya trombolisis intravena,” kata dr. Bambang.
Namun, setelah lebih dari 4,5 jam, tindakan yang diberikan akan berbeda.
Biasanya pasien membutuhkan tindakan medis lebih agresif, seperti menyedot bekuan darah melalui kateter di ruang kateterisasi (cat-lab).
“Waktunya juga dibatasi di bawah 24 jam,” ujarnya.
Stroke Hemoragik: Perdarahan di Otak, Lebih Mematikan
Berbeda dengan stroke iskemik, stroke hemoragik terjadi karena pecahnya pembuluh darah otak.
Darah kemudian mengalir ke jaringan otak dan merusaknya.
Ada beberapa tipe perdarahan otak, antara lain:
- Intraserebral hemorrhage (ICH) — darah berada di dalam jaringan otak
- Subarachnoid hemorrhage — darah mengisi sela-sela otak, sering karena aneurisma (pelebaran pembuluh darah)
- Subdural — darah di selaput otak, sering tidak disadari
Menurut dr. Bambang, jenis subarachnoid meski lebih jarang, justru sangat berbahaya.
“Subarachnoid sebenarnya lebih sedikit, tapi subarachnoid ini lebih mematikan, karena dia komplikasi dari penyakitnya banyak, panjang," imbuhnya.
Penanganan stroke hemoragik sangat berbeda dengan stroke iskemik dan tidak menggunakan obat pengencer darah.
Prosedur dapat mencakup operasi atau tindakan untuk menghentikan perdarahan dan mengontrol tekanan di otak.
Kunci Utama: Datang ke Rumah Sakit Secepat Mungkin
Apapun jenisnya, penanganan stroke tergantung pada kecepatan pasien tiba di fasilitas kesehatan.
Semakin cepat datang, semakin besar peluang pulih tanpa cacat permanen.
Gunakan metode FAST untuk mengenali tanda stroke:
- Face: wajah mencong
- Arm: tangan lemas
- Speech: bicara pelo
- Time: segera ke IGD!
Ingat, Stroke Bisa Menyerang Siapa Saja
Bukan hanya lansia, stroke kini banyak terjadi pada usia produktif akibat pola hidup, stres, hipertensi, dan diabetes yang tidak terkontrol.
Penting untuk:
- Rutin cek tekanan darah
- Kontrol gula darah dan kolesterol
- Hindari merokok
- Kelola stres
- Cukup tidur dan olahraga
Memahami perbedaan stroke iskemik dan hemoragik bukan hanya penting bagi tenaga medis, tetapi juga untuk masyarakat umum.
Dengan mengenali gejala dan bertindak cepat, nyawa bisa terselamatkan dan risiko kecacatan dapat ditekan.
Jika seseorang di sekitar Anda tiba-tiba mengalami gejala stroke, jangan tunggu. Segera antar ke IGD rumah sakit terdekat.
(Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan