News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Bedakan Sesak Napas Pneumonia dan Asma pada Anak, Ini Penjelasan Lengkap Dokter

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Endra Kurniawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PNEUMONIA - Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), Subsp.Resp(K). Berikut cara membedakan sesak napas pneumonia dan asma pada anak .

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Saat anak mengalami sesak napas, orang tua kerap kesulitan membedakan apakah kondisi tersebut disebabkan pneumonia atau serangan asma. 

Padahal, keduanya membutuhkan penanganan berbeda. Kesalahan penanganan dapat memperburuk kondisi anak.

Menurut Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), Subsp.Resp(K), membedakan pneumonia dan asma memang tidak mudah bagi orang awam.

“Jadi memang untuk non-medis, sesak napas itu sulit dibedakan,” ujarnya pada media briefing virtual, Jumat (21/11/2025). 

Pneumonia merupakan infeksi paru yang biasanya didahului demam, batuk, dan pilek, kemudian berkembang menjadi napas cepat dan tarikan dinding dada bagian bawah. 

Saturasi oksigen juga biasanya turun hingga di bawah 92 persen. 

Baca juga: Dampak Pneumonia pada Otak Bayi, Bisa Berisiko Turunkan Potensi Kecerdasan di Masa Depan

Sementara itu, asma umumnya menyerang anak usia lebih besar dan tidak selalu disertai demam. 

Serangan asma bisa muncul karena paparan debu, asap rokok, hingga stres. Bunyi mengi atau “ngik-ngik” sering menjadi tanda khasnya.

Anak yang mengalami serangan asma biasanya membaik setelah diberikan obat hirup atau nebulisasi. Namun, ini tidak berlaku pada pneumonia.

“Kalau penemuni, si kantong paru yang sudah terisi cairan itu tidak mudah diatasi begitu saja, dia perlu waktu untuk membaik, sehingga anak dengan pneumonia biasanya harus dirawat untuk diobati,” jelasnya.

Peran Vaksinasi dan Herd Immunity Lindungi Bayi yang Belum Bisa Divaksin

Pakar menegaskan bahwa beberapa bayi dapat terkena pneumonia sebelum mencapai usia vaksinasi. 

Pada kondisi inilah peran cakupan vaksinasi masyarakat menjadi sangat penting.

Ketika sebagian besar orang di lingkungan telah divaksin, penyebaran penyakit menurun sehingga bayi atau individu yang belum bisa divaksin tetap terlindungi lewat herd immunity.

Selain vaksin, menjaga kualitas udara di rumah juga menjadi langkah kunci. 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini