Ringkasan Berita:
- Sekitar 1,5 persen warga DKI berusia di atas 15 tahun mengalami depresi, namun angka ini diduga baru fenomena gunung es.
- Dicky Budiman menilai banyak kasus tidak terdeteksi akibat stigma, metode survei, dan akses layanan yang terbatas.
- Ia menekankan perlunya deteksi dini, layanan mental di puskesmas, serta intervensi sosial-ekonomi.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Baru-baru Kementerian Kesehatan ungkap sekitar 1,5 persen warga DKI Jakarta berusia di atas 15 tahun mengalami depresi.
Dokter, epidemiolog, dan peneliti keamanan dan ketahanan kesehatan global asal Indonesia Dicky Budiman, menilai angka tersebut belum tentu menggambarkan kondisi sesungguhnya.
“Kemungkinan sebenarnya ini adalah fenomena gunung es ya. Angka 1,5 persen ini sebetulnya tidak atau belum sepenuhnya mencerminkan beban sebenarnya, karena batasan metodologis dan konteks pengukuran membuat angka terlihat rendah,” ujar Dicky pada Tribunnews, Jumat (28/11/2025).
Ia menjelaskan, perbedaan definisi, instrumen survei, hingga periode pengukuran sering menghasilkan angka yang terlihat lebih kecil dari kondisi nyata.
Banyak warga yang sebenarnya mengalami depresi ringan hingga sedang, namun tidak terdeteksi karena stigma, ketakutan, atau belum mendapat diagnosis formal.
Baca juga: Terungkap Alasan Pria di Tanah Abang Tabrakkan Diri ke Mobil, Depresi Ditinggal Ayahnya
Faktor Pemicu yang Saling Bertumpuk
Menurut Dicky, ada tujuh kelompok faktor risiko dominan yang membuat masyarakat perkotaan lebih rentan mengalami depresi, terutama Jakarta sebagai salah satu kota dengan ritme hidup paling padat di Indonesia.
1. Tekanan sosial ekonomi
Pengangguran, ketidakstabilan pekerjaan, PHK, biaya hidup tinggi, kemacetan, hingga gaji yang tidak sebanding dengan tuntutan kerja menjadi pemicu stres kronis yang lama-lama berujung depresi.
2. Ketimpangan sosial dan tekanan kompetitif
Perbandingan sosial, ekspektasi kerja yang tinggi, jam kerja panjang, hingga kurangnya waktu istirahat menjadi pola berulang di kota besar.
3. Isolasi sosial dan urban loneliness
Ironisnya, tinggal di kawasan padat tidak menjamin seseorang memiliki interaksi bermakna. Banyak warga Jakarta hidup sendirian secara emosional, meskipun berada di tengah keramaian.
4. Lingkungan fisik kota
Polusi udara, polusi suara, kepadatan, dan minimnya ruang hijau memperkuat beban psikologis. Hal ini meningkatkan stres lingkungan yang berpengaruh pada kesehatan mental.
5. Peristiwa hidup atau trauma pribadi
Perceraian, masalah keluarga, bencana, dan pengalaman traumatis lain dapat memperbesar risiko depresi.
6. Stigma dan keterbatasan akses layanan
Banyak orang enggan mencari bantuan karena takut dicap. Layanan kesehatan mental di puskesmas juga belum merata.
7. Penyalahgunaan alkohol atau zat adiktif
Penggunaan alkohol, narkotika, dan zat lainnya dapat memperburuk kondisi depresi yang sudah ada.
Konteks Global: Kota Besar Memang Lebih Rawan
Dicky memaparkan, prevalensi depresi di kota besar dunia seperti Tokyo, Seoul, Shanghai, Singapura, hingga kota-kota Eropa dan Australia, umumnya jauh lebih tinggi, terutama jika menggunakan instrumen screening yang sensitif.
“Banyak kota besar itu menunjukkan angka depresi dan kecemasan yang jauh lebih tinggi kalau diukur dengan instrumen screening yang sensitif ya,” kata Dicky.
Karena itu, angka rendah di Jakarta tidak boleh dianggap sebagai tanda bahwa warganya lebih sehat secara mental daripada populasi kota besar lain.
Bisa jadi, pendataan yang belum optimal dan stigma sosial membuat banyak kasus tidak tercatat.
Dicky menekankan perlunya transparansi metodologi survei, perluasan deteksi dini di puskesmas, peningkatan jumlah tenaga profesional, serta penguatan layanan berbasis komunitas.
Selain itu, faktor sosial seperti jam kerja, ruang hijau, dan beban ekonomi juga harus diintervensi agar tidak terus menjadi pemicu stres warga.
Masalah depresi bukan hanya soal individu, tetapi gambaran utuh dari ekosistem kota. Pemulihannya memerlukan pendekatan menyeluruh yang menyentuh sisi kesehatan, sosial, ekonomi, hingga lingkungan.
Baca tanpa iklan