TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga menimbulkan dampak kesehatan yang serius baik fisik maupun psikologis pada para penyintas.
Baca juga: Aksi Aktivis Ferry Irwandi Kumpulkan Rp 10,3 Miliar dalam 24 Jam untuk Korban Banjir di Sumatera
Ahli Kesehatan Masyarakat dan Peneliti Keamanan Kesehatan Global, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa pascabencana selalu memiliki pola risiko kesehatan tertentu, terutama pada kelompok rentan seperti anak dan perempuan.
“Kalau melihat situasi bencana ini, jelas dampak psikologis itu akan terjadi. Dengan juga beberapa jenis penyakit yang akan muncul seiring dengan bencana itu terjadi,” kata Dicky dalam keterangannya, Selasa (2/12/2025).
Menurut Dicky, dampak pertama yang muncul dalam 1–2 hari setelah bencana adalah gangguan psikologis. Kondisi ini dipicu oleh lingkungan pengungsian yang padat, kehilangan rumah, atau bahkan kehilangan anggota keluarga.
“Dampak psikologis pada masyarakat terutama pada anak dan perempuan, karena dia menyebabkan stres akut maupun kronis akibat kehilangan rumah, harta, dan rasa aman,” jelasnya.
Gejala yang sering muncul meliputi stres berat, kecemasan, panic attack. Kemudian ganguan mental pada anak tantrum, ketakutan berulang serta sulit tidur.
Dicky menambahkan bahwa kondisi mental yang terganggu turut menurunkan daya tahan tubuh karena kurang tidur, makan tidak teratur, dan tekanan emosional yang berkepanjangan.
Dalam masa kritis 2–3 hari pertama, penyakit fisik mulai bermunculan. Penyakit paling dominan adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), akibat kepadatan tenda pengungsian, ventilasi buruk, suhu dingin dan lembab serta asap dapur darurat.
“Penyakit yang paling sering muncul pasca banjir itu pertama memang ISPA. Ini paling cepat meningkat dalam 48–72 jam pertama,” ujar Dicky.
Setelah itu, penyakit pencernaan seperti diare dan gastroenteritis mulai meningkat karena air minum terkontaminasi, sanitasi rusak, dan keterbatasan kebersihan tangan.
Masalah dermatologis seperti dermatitis, impetigo, dan infeksi kulit sekunder kerap muncul dalam beberapa hari berikutnya.
Baca juga: Data Basarnas dan BNPB Beda soal Korban Banjir Sumatera, Ini Penjelasan Kepala Basarnas
Wilayah dengan populasi tikus yang tinggi rawan terkena leptospirosis, sebuah penyakit yang dapat menyebabkan gagal organ jika tidak ditangani segera.
Selain itu, penyakit berbasis air seperti hepatitis A, tipes, dan cacingan juga dapat muncul jika sanitasi tidak ditangani secara cepat.
Baca tanpa iklan