TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Angka kanker anak di dunia masih menjadi perhatian serius. WHO mencatat lebih dari 400.000 anak didiagnosis kanker setiap tahun, dan sekitar 80 persen di antaranya berada di negara berkembang dengan tingkat kelangsungan hidup yang masih di bawah 30 persen.
Di Indonesia, diperkirakan lebih dari 10.000 anak mengidap kanker setiap tahun, namun hanya sekitar 2.000 kasus yang tercatat karena rendahnya kesadaran dan akses layanan kesehatan.
Data GLOBOCAN 2020 menunjukkan terdapat 11.156 kasus kanker pada kelompok usia 0–19 tahun, dengan leukemia sebagai jenis terbanyak.
Baca juga: Anak Didiagnosis Leukemia, Bisakah Disembuhkan?
Meski hanya 3–5 persen dari keseluruhan kasus kanker, pengobatan kanker anak menjadi prioritas sebab peluang kesembuhannya jauh lebih tinggi bila terdeteksi dini dan mendapat terapi tepat waktu.
Upaya deteksi dini terus digencarkan. Tenaga kesehatan mengingatkan agar orang tua peka terhadap gejala awal yang kerap tidak mencolok, seperti benjolan atau pembengkakan yang tak hilang, perubahan warna kulit atau pupil mata, kelelahan ekstrem, hilangnya nafsu makan, hingga penurunan berat badan tanpa sebab.
Demam berkepanjangan, infeksi yang sulit sembuh, serta perdarahan atau memar yang tidak biasa juga dapat menjadi sinyal bahaya. Semakin cepat gejala dikenali, semakin besar peluang anak memperoleh penanganan yang efektif.
Namun perjalanan pengobatan bukan perkara mudah. Anak dengan kanker harus menjalani serangkaian kemoterapi, pemeriksaan intensif, dan menghadapi efek samping pengobatan seperti mual, muntah hingga kejang.
Situasi ini kerap menimbulkan tekanan mental baik bagi anak maupun keluarganya. Orangtua harus mampu mengelola kecemasan mereka sendiri agar tidak menular kepada anak.
Itulah yang dialami Tania, ibu dari Andrew. Saat Andrew didiagnosis leukemia pada usia tujuh tahun, Tania memilih menahan kesedihan dan ketakutannya demi menjaga semangat sang anak.
Ia tidak langsung menyebut kata 'kanker', hanya menjelaskan bahwa pengobatan akan panjang dan butuh perjuangan.
Baca juga: Demi Sumsum Tulang Belakang, Ibu di China Cari Orang Tua Kandung Putrinya yang Didiagnosis Leukemia
“Saya tidak mau Andrew merasa sendirian atau takut. Yang penting dia tahu kami selalu bersama dia,” kata Tania sambil menyebut dukungan suami dan tenaga medis turut membantu menjaga stabilitas emosi Andrew selama dua tahun proses pengobatan.
Resiliensi atau ketahanan psikologis orang tua menjadi aspek penting dalam perjalanan tersebut. Hal ini diperkuat hasil Penelitian Magister Psikologi Universitas Tarumanagara oleh Tania Mursalim, Dr. Riana Sahrani, psikolog, dan Pamela Hendra Heng, S.Pd., M.P.H., M.A., Ph.D., yang meneliti 216 ibu dari pasien kanker anak di Indonesia.
Penelitian tersebut menemukan bahwa kekuatan harapan, dukungan sosial, serta ketekunan orangtua memiliki hubungan yang signifikan dengan tingginya tingkat resiliensi mereka.
Harapan membuat orang tua tetap memiliki tujuan dan motivasi untuk terus mencari solusi terbaik bagi anak. Dukungan sosial baik dari keluarga, teman, komunitas maupun tenaga kesehatan membantu meringankan beban emosi.
Sementara ketekunan menjaga orang tua tetap konsisten menjalani proses pengobatan yang panjang dan penuh ketidakpastian. Tiga pilar ini saling menguatkan dan menjadi fondasi utama bagi keluarga dalam mendampingi anak menjalani terapi.
Baca tanpa iklan