Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Memasuki tahun 2026, ancaman kesehatan tidak datang tiba-tiba.
Risiko justru meningkat sejak hari-hari awal tahun, seiring tingginya mobilitas masyarakat, kepadatan perjalanan, dan kelelahan fisik yang kerap dianggap sepele.
Dokter, epidemiolog sekaligus pakar kesehatan global, Dicky Budiman, menegaskan bahwa ketahanan kesehatan di 2026 tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata.
Melainkan kemampuan membaca risiko lebih dini dan merespons secara tepat.
“Jadi pesan strategis menyongsong 2026, sekali lagi kesehatan di 2026 tidak akan ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata. Tapi oleh kemampuan kita dalam membaca risiko lebih awal, bertindak lintas sektor, dan menjaga kepercayaan publik,"kata Dicky pada keterangannya, Selasa (30/12/2025).
Awal tahun, menurut Dicky, menjadi fase rawan karena lonjakan perjalanan jarak jauh, kepadatan transportasi umum, serta pola istirahat yang terganggu.
Kondisi tersebut memicu kelelahan, menurunkan imunitas tubuh, dan meningkatkan risiko kecelakaan maupun penularan penyakit.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan perjalanan saat kondisi tubuh tidak prima.
Kebutuhan dasar seperti istirahat cukup, asupan cairan, serta manajemen stres selama perjalanan menjadi kunci menjaga kesehatan di masa padat mobilitas.
Penggunaan masker juga kembali relevan, terutama saat menggunakan transportasi umum di kondisi padat atau ruang tertutup.
Pasalnya, awal tahun identik dengan meningkatnya infeksi saluran pernapasan, termasuk influenza dan Covid-19 subvarian musiman.
Kelompok berisiko tinggi seperti lansia dan individu dengan gangguan imunitas perlu mendapat perhatian ekstra.
Pada kelompok ini, infeksi influenza maupun Covid-19 berpotensi berkembang menjadi pneumonia dan berujung fatal.
Dicky menyebut, tren peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan sudah mulai terdeteksi dalam beberapa waktu terakhir.
Baca tanpa iklan