Selain itu, masyarakat juga perlu waspada terhadap demam berdarah dengue (DBD) yang kerap meningkat akibat genangan air di musim hujan.
Ia menekankan pentingnya tidak menormalisasi sakit ringan yang bersifat menular.
Demam yang berlangsung lebih dari dua hari seharusnya menjadi sinyal untuk segera memeriksakan diri.
“Ingat ya sebetulnya risiko terbesar itu bukan pada penyakitnya tapi keterlambatan respon yang diberikan," tegasnya.
Selain penyakit infeksi, risiko kesehatan lain yang mengintai di awal tahun adalah konsumsi makanan dan minuman berlebihan.
Pola makan tinggi gula, lemak, konsumsi alkohol, serta waktu tidur yang tidak teratur dapat memicu gangguan kesehatan akut.
Kondisi seperti tekanan darah tidak terkendali, lonjakan gula darah, gangguan lambung, hingga masalah jantung kerap muncul setelah periode libur panjang.
Meski terlihat mendadak, dampaknya bisa serius bila tidak diantisipasi.
Dari sisi pemerintah, Dicky menekankan pentingnya kesiapsiagaan sistem kesehatan di akhir dan awal tahun.
Rumah sakit dan puskesmas perlu siap menghadapi potensi lonjakan kasus infeksi maupun kecelakaan.
Termasuk memastikan ketersediaan obat esensial dan tenaga kesehatan yang tidak mengalami kelelahan ekstrem.
Mitigasi bencana kesehatan musiman juga menjadi krusial, mengingat Indonesia rawan bencana hidrometeorologi di periode ini.
Dampaknya tidak hanya pada kesehatan, tetapi bisa bersifat multidimensi dan meluas.
Dalam situasi pergerakan massa yang tinggi, komunikasi risiko menjadi kunci utama.
Pesan kesehatan harus disampaikan secara jelas, konsisten, empatik, dan mudah dipahami masyarakat.
Baca tanpa iklan