News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Super Flu Akankah Jadi Pandemi Baru? Begini Kata Epidemiolog

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SUPER FLU - Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. dr. Cissy Rachiana Sudjana Prawira-Kartasasmita, Sp.A. (K) menyatakan anak-anak lebih rentan terserang penyakit karena daya tahan tubuh anak belum sempurna.

Ringkasan Berita:

  • Lonjakan kasus super flu influenza A (H3N2) di Indonesia tercatat di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat, namun masih tergolong wabah musiman. 
  • Dominasi penduduk muda, perilaku protektif lansia, dan faktor cuaca membantu menahan penyebaran. 
  • Ahli menekankan vaksin influenza dan sistem surveilans dini sebagai langkah utama perlindungan kelompok rentan.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –  Lonjakan kasus super flu di Indonesia memicu kekhawatiran masyarakat mengingat  gejala lebih berat dibanding flu biasa.

Sedikitnya ada 62 kasus super flu influenza A (H3N2) subclade K yang sudah terkonfirmasi di Indonesia dengan konsentrasi terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Dokter sekaligus epidemiolog Dicky Budiman mengatakan, dalam konteks Indonesia, super flu sejatinya sudah masuk kategori wabah musiman, bukan ancaman baru yang akan berkembang menjadi pandemi besar seperti COVID-19.

“Kalau menjadi wabah dalam konteks wabah musiman, sudah terjadi sebetulnya, sudah terjadi,” kata Dicky pada program Tribunnews On Focus di kanal YouTube Tribunnews, Selasa (6/12/2025).

Menurut Dicky, salah satu faktor penting yang menahan laju penyebaran super flu di Indonesia adalah struktur demografi penduduk yang didominasi usia muda dengan imunitas relatif baik.

Kelompok usia produktif ini berperan sebagai “peredam alami” penularan, sehingga lonjakan kasus tidak berkembang menjadi krisis kesehatan berskala luas.

Selain itu, tidak semua lansia otomatis mengalami kondisi berat. 

Baca juga: Warga Jakarta yang Liburan ke Luar Negeri Diminta Waspada Super Flu H3N2

Hanya sebagian kecil yang berisiko mengalami komplikasi serius, terutama mereka dengan penyakit penyerta atau daya tahan tubuh yang lemah.

Perilaku lansia di Indonesia juga dinilai masih cukup protektif.

Kebiasaan menggunakan masker dan mobilitas yang lebih rendah dibandingkan lansia di negara maju turut membantu menekan potensi ledakan kasus.

Musim Hujan Tingkatkan Risiko, Tapi Bersifat Sementara

Meski relatif terkendali, Dicky mengingatkan bahwa musim hujan tetap menjadi faktor penting dalam peningkatan kasus super flu.

Curah hujan tinggi membuat aktivitas masyarakat lebih banyak dilakukan di ruang tertutup dan fasilitas publik yang padat. Kondisi ini menciptakan lingkungan ideal bagi penularan virus pernapasan.

Namun, risiko tersebut bersifat musiman. Ketika intensitas hujan menurun dan aktivitas kembali lebih terbuka, potensi penyebaran pun cenderung ikut mereda.

Dengan kata lain, lonjakan kasus yang terjadi saat ini lebih mencerminkan pola tahunan, bukan sinyal krisis baru.

Di tengah kekhawatiran publik, muncul pula narasi yang menyebut super flu sebagai penyakit “rekayasa” demi kepentingan industri vaksin.

Pandangan ini ditegaskan Dicky sebagai teori konspirasi yang menyesatkan dan berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.

“Ini sekali lagi teori konspirasi yang selain menyesatkan, tapi juga cenderung berbahaya,” ujarnya.

Menurut Dicky, narasi semacam ini justru dapat melemahkan upaya perlindungan terhadap kelompok rentan, terutama lansia, karena membuat masyarakat enggan melakukan vaksinasi influenza.

Padahal, vaksin influenza terbukti berperan penting dalam menurunkan risiko keparahan dan kematian akibat infeksi.

Lebih jauh, Dicky menekankan bahwa kemunculan berbagai penyakit infeksi dalam dua dekade terakhir tidak bisa dilepaskan dari kerusakan lingkungan.

Baca juga: Menkes: Influenza A Subclade K Sama Seperti Flu Biasa dan Tidak Mematikan

Perusakan hutan dan habitat satwa liar memicu perpindahan virus dari hewan ke manusia. Virus yang sebelumnya “terkunci” di alam liar akhirnya menemukan inang baru ketika ekosistem rusak.

Fenomena inilah yang menjelaskan kemunculan berbagai penyakit baru, dari influenza varian tertentu hingga COVID-19.

Kondisi tersebut menegaskan pentingnya pendekatan One Health, yakni upaya terpadu menjaga kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara bersamaan.

Pemerintah Diminta Perkuat Radar Kewaspadaan

Dalam menghadapi super flu, Dicky menilai langkah paling krusial dari pemerintah bukanlah menciptakan kepanikan, melainkan memperkuat sistem kewaspadaan dini.

Pemantauan kasus melalui sistem surveilans, baik influenza-like illness (ILI) maupun severe acute respiratory infection (SARI), menjadi kunci untuk membaca tren yang tidak biasa.

Dengan data yang konsisten dan merata hingga ke daerah rawan bencana, pemerintah dapat memastikan apakah lonjakan kasus masih dalam batas normal musiman atau sudah memasuki fase yang memerlukan intervensi khusus.

Pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif dibanding respons reaktif yang muncul setelah rumah sakit mulai kewalahan.

Super flu di Indonesia bukan ancaman baru yang mengarah pada pandemi, melainkan bagian dari siklus wabah musiman yang dipengaruhi usia penduduk, perilaku masyarakat, dan faktor cuaca.

Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama pada musim hujan dan di wilayah dengan kelompok rentan tinggi.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini