TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Munculnya dua kasus terkonfirmasi virus Nipah (Nipah virus/NiV) di India kembali memicu kewaspadaan regional.
Sejumlah negara Asia memperketat skrining di bandara dan pintu masuk negara, meski jumlah kasus yang terlapor sangat terbatas.
Baca juga: Menkes Ungkap Alasan Indonesia Belum Tutup Pintu Perbatasan di Tengah Ancaman Virus Nipah
Epidemiolog Dicky Budiman menegaskan, respons ketat tersebut bukan karena wabah memburuk, melainkan karena adanya ketidakpastian awal dalam fase terbaru kemunculan kasus Nipah.
“Bukan karena lebih ganas, tapi lebih strategically uncertain. Jadi ada ketidakpastian,” ujar Dicky Budiman pada keterangannya, Sabtu (31/1/2026).
Baca juga: Mengapa Virus Nipah Picu Kematian Tinggi? Dokter Jelaskan Penyebabnya
Sebagai informasi, virus Nipah adalah Virus adalah penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) yang disebabkan oleh virus dari genus Henipavirus.
Virus ini diklasifikasikan sebagai patogen prioritas oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO karena memiliki tingkat kematian yang tinggi.
Diperkirakan antara 40 persen hingga 75 persen dan potensi menyebabkan epidemi.
Ketidakpastian Awal Jadi Pemicu Kewaspadaan Regional
Menurut Dicky, wilayah Kerala di India sebenarnya bukan lokasi baru bagi virus Nipah.
Sejak 2018, daerah tersebut beberapa kali mengalami outbreak kecil yang terlokalisasi, dengan sumber zoonosis yang relatif jelas dan penularan antarmanusia yang masih terbatas.
Namun, pada fase terbaru ini, konteks awal penularan belum sepenuhnya terpetakan.
Investigasi epidemiologi masih berjalan, sehingga belum dapat dipastikan apakah kasus tersebut murni spillover lokal atau melibatkan paparan lintas wilayah.
“Pada kasus terbaru saat ini, investigasi epidemiologi masih berjalan, dan ada ketidakjelasan atau belum sepenuhnya jelas tentang apakah ini murni spillover lokal,” jelasnya.
Ketidakpastian inilah yang dalam manajemen wabah dianggap sebagai risiko strategis yang lebih besar dibanding jumlah kasus itu sendiri.
Baca juga: Mengapa Virus Nipah Picu Kematian Tinggi? Dokter Jelaskan Penyebabnya
Baca tanpa iklan