Menurut Prof. Erlina, sebagian besar mutasi virus sebenarnya menghasilkan strain yang lebih lemah.
Namun dalam beberapa kasus, mutasi justru dapat membuat gejala terasa lebih berat dan berlangsung lebih lama.
“Jadi inilah menyebabkan dia mungkin agak sedikit mudah menular dan dengan gejala yang saya menyebutnya bisa lebih lama dari biasanya dan pada orang tertentu akan terasa lebih berat,"lanjutnya.
Fenomena ini terlihat dari meningkatnya kasus influenza yang memerlukan perawatan, terutama pada lansia dan anak-anak, seperti yang dilaporkan di Amerika Serikat saat musim dingin.
WHO Belum Menyebut Super Flu Lebih Berbahaya
Meski terjadi peningkatan kasus di beberapa negara, Prof. Erlina menegaskan bahwa secara epidemiologi, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO belum menyatakan super flu sebagai virus yang lebih ganas atau lebih mudah menular dibandingkan influenza lain.
Kondisi musim dingin menjadi faktor penting karena virus influenza memang cenderung lebih mudah menyebar pada periode tersebut, terutama di negara dengan populasi lansia yang besar.
Perbedaan super flu, flu babi, dan flu burung terletak pada strain virusnya, bukan pada tingkat kepanikan yang perlu dibangun.
Masyarakat diimbau tetap waspada, menjaga daya tahan tubuh, dan tidak mudah terpengaruh istilah yang menyesatkan.
Memahami perbedaan ini penting agar publik tidak panik, namun tetap sadar bahwa influenza, dalam bentuk apa pun, bisa berdampak serius pada kelompok rentan bila tidak ditangani dengan tepat.
Baca tanpa iklan