TRIBUNNEWS.COM - Anggapan bahwa stroke hanya menyerang kelompok lanjut usia kian terpatahkan. Dalam beberapa tahun terakhir, tren sakit stroke pada usia muda menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan.
Pola hidup tidak sehat, tekanan kerja, hingga minimnya kesadaran terhadap faktor risiko menjadi kombinasi yang mempercepat ancaman penyakit ini menjangkit kalangan usia produktif.
Data Studi Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang dipublikasikan pada 2024, prevalensi stroke pada kelompok usia 18 hingga 44 tahun meningkat 14,6 persen dibandingkan satu dekade sebelumnya.
Mereka yang berusia di bawah 40 tahun kini mulai masuk dalam kelompok berisiko, terutama jika memiliki kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi lemak dan gula, serta tingkat stres yang tinggi.
Stroke sendiri terjadi akibat terganggunya aliran darah ke otak, baik karena penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah. Ketika suplai oksigen terhenti, sel-sel otak akan mengalami kerusakan permanen hanya dalam hitungan menit.
Dampaknya bukan hanya risiko kematian, tetapi juga kecacatan jangka panjang yang memengaruhi kualitas hidup penderitanya.
Kondisi ini membuat stroke tak hanya menjadi isu medis, tetapi juga persoalan gaya hidup modern.
Bagaimana Cara Menghindari Stroke di Usia Muda?
Hal ini juga ditegaskan oleh Dokter Spesialis Neurologi RSPI Puri Indah, dr. Marcus Adityawan Bahroen, Sp.N dalam Podcast Ruang Sehat, ia menyebut bahwa stroke di usia muda kerap dipicu kombinasi gaya hidup dan faktor risiko yang tidak terkontrol sejak dini.
“Ya, salah satunya statistik yang saya terima, menunjukkan pasien stroke usia muda memang meningkat tajam. WHO juga menunjukkan usia muda juga mulai terkena stroke. Yang sebenarnya, kalau menurut pengalaman saya, juga sudah sering bertemu pasien yang stroke, di rentang usia 20-an. Dan yang menyebabkan mungkin ya gaya hidup modern anak-anak muda sekarang,” kata dr. Marcus di Podcast Ruang Sehat beberapa waktu lalu.
Pencegahan stroke pada usia muda sejatinya dapat dimulai dari perubahan kebiasaan sehari-hari. Menjaga pola makan seimbang menjadi langkah awal yang krusial, dengan memperbanyak konsumsi sayur, buah, serta membatasi makanan tinggi lemak jenuh dan garam.
Aktivitas fisik teratur, setidaknya 30 menit per hari, juga terbukti mampu menjaga kesehatan pembuluh darah dan jantung.
Selain itu, pengendalian faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, dan kadar gula darah harus dilakukan sejak dini. Banyak kasus stroke pada usia muda berawal dari hipertensi yang tidak terdeteksi karena jarang melakukan pemeriksaan kesehatan.
Baca juga: Gangguan Irama Jantung Bisa Picu Stroke di Kalangan Generasi Muda
Mengelola stres dengan istirahat yang cukup, olahraga, dan manajemen waktu kerja yang baik juga menjadi faktor penting dalam pencegahan.
Tak kalah penting, menghentikan kebiasaan merokok dan mengurangi konsumsi alkohol merupakan langkah yang signifikan. Kedua faktor ini terbukti mempercepat kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko stroke, bahkan pada individu yang masih berusia muda.
Untuk lebih lengkapnya mengenai risiko stroke di usia muda, termasuk dampak gaya hidup seperti begadang dan kurang istirahat, kamu bisa simak Podcast Ruang Sehat episode ke-5 di kanal YouTube Tribunnews di link ini.
Baca juga: Dari Rongga Mulut ke Otak, Ini Alasan Mengapa Kesehatan Gigi Penting untuk Cegah Stroke
Baca tanpa iklan