Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Kebijakan work from home (WFH) juga menyimpan risiko kesehatan yang kerap tidak disadari.
- Jika tidak dirancang dengan baik, WFH justru bisa memicu masalah kesehatan fisik maupun mental.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di balik berbagai manfaatnya, kebijakan work from home (WFH) juga menyimpan risiko kesehatan yang kerap tidak disadari.
Jika tidak dirancang dengan baik, WFH justru bisa memicu masalah kesehatan fisik maupun mental.
Baca juga: Pakar Ungkap Manfaat Kesehatan Tersembunyi di Balik Penerapan WFH
Dokter, peneliti Global Health Security, dan pakar epidemiologi Dr. Dicky Budiman, B.Med., MD., MScPH., Ph.D, mengingatkan bahwa kebijakan ini tidak selalu berdampak positif.
“Dan ini juga krusial ya, karena banyak studi terbaru menekankan juga bahwa kalau desain kebijakannya tidak tepat, ya ini akan melahirkan yang disebut dengan heightened health risk ya,” ujarnya pada Tribunnews, Minggu (12/4/2026).
Risiko Kesepian dan Gangguan Mental
Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah gangguan kesehatan mental.
WFH membuat interaksi sosial berkurang, terutama interaksi informal yang biasanya terjadi di tempat kerja.
Kondisi ini dapat memicu rasa kesepian, isolasi sosial, hingga depresi ringan hingga sedang.
Selain itu, muncul juga fenomena digital fatigue akibat penggunaan perangkat digital secara terus-menerus.
Minimnya interaksi langsung membuat dukungan sosial (social buffering) berkurang, yang sebelumnya berperan penting dalam menjaga kesehatan mental pekerja.
Gaya Hidup Sedentari dan Risiko Obesitas
WFH juga berkaitan dengan perubahan gaya hidup yang lebih pasif.
Aktivitas fisik cenderung menurun karena pekerja lebih banyak duduk di depan layar.
“Nah selain itu pada beberapa individu ya ini bisa makin sedentary lifestyle ya jadi mager-mager ya. Risiko metabolik akhirnya meningkatkan,” jelas Dicky.
Baca tanpa iklan